Air! Awalnya setitik. Satu tetes…Dua tetes..Tiga tetes…Rangkaian ketukan tetesannya menyusun sebuah irama. Kecepatan gravitasinya semakin tinggi. Suara tetesan air yang berjatuhan ke permukaan tanah pun semakin menderu. Gemuruh iramanya kian terasa. Angin meniup butir-butir air terhempas jauh dan pada akhirnya jatuh juga ke permukaan tanah. Butirannya menyelusup di antara pori-pori tanah dan bermalam dalam ruang yang kosong.
Air! Aku takut sekali pada zat itu! Karena kumpulan air yang menjelma menjadi hujan selalu membangkitkan traumaku akan wujud itu. Kenangan yang sangat mendalam. Guyuran hujan lebat—gabungan butir-butir air telah menumbangkan pohon jambu air hingga menghancurkan rumah kelinci kakekku. Gara-gara ulahnya yang nakal dan luapan emosinya, semua kelinci kakekku berlumuran darah dan mati bermandikan darah. Itu karena air.
“Bukan karena air hujan, tapi pohonlah yang telah merenggut nyawa kelinci kakek!” Itulah yang dikatakan kakekku saat aku terus-menerus menyalahkan air. Kisah tragis gara-gara air!
Sejak itu, bila setetes air hujan menyentuh kulitku, aku langsung bersembunyi di balik atap rumah. Tak mau keluar rumah. Aku takut air itu menjelma menjadi sosok yang ganas dan brutal. Aku takut air itu akan meluapkan amarahnya dan mengambil nyawaku. Seperti pada kelinci-kelinci putih kesayangan kakek.
Tak hanya itu. Gara-gara air pun aku hampir tenggelam di kolam renang yang dalamnya hanya dua meter lebih. Saat itu aku masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Dan aku hanya bisa berteriak, “Tolong!!!” Tak kuasa menahan volume air. Dikarenakan air pula aku hampir terbawa arus ombak ganas ke tengah lautan ketika sedang berlibur di sebuah pantai bersama keluarga.
Air! Aku sangat membencimu! Semua kisah tragisku dengan air, semuanya terjadi ketika aku masih kecil. Kakek yang selalu menjagaku sepulang dari sekolah, malah tertawa ketika mulutku mengeluarkan kalimat protes itu.
“Kenapa kamu membencinya, Nak?!” tanya kakek seolah-olah tidak ingat trauma yang kualami ketika berhadapan dengan tiga huruf yang berwujud cair itu.
“Pokoknya aku benci air!”
Kupamerkan telapak tanganku pada kakek, “Ini air
Butir-butir keringat membanjiri permukaan kulit telapak tanganku. Kakek tampak tersenyum. Mungkin yang ada dipikirannya saat itu, “Ini anak kritis sekali. Segala sesuatu yang berhubungan dengan air selalu ditanyakan.” Tapi begitulah masa kecilku. Sampai sekarang ucapan kakek masih tersimpan dalam memoriku. Bilangnya, aku tidak pernah olah raga jadi keringatku berkumpul di permukaan kulit telapak tanganku yang tipis. Saat itu, aku hanya bisa cemberut dan berpikir untuk memancing agar kakek memberi jawaban yang lain. Tetap saja aku tak bisa memaafkan air. Akibat air yang menetes dari kulit telapak tanganku, aku hampir saja melunturkan boxy hitam dalam kertas ujian. Sampai basah. Mengerut. Dan setelah kering, akhirnya kertas itu menjadi keriting. Gara-gara air yang menetes itu pun, mau tidak mau kemana-mana aku harus selalu memegang tissu. Sesekali harus kulap telapak tangan ini.
Aku benci air ini! Kutepuk-tepuk telapak tanganku yang basah.
“Aneh, Kek,” kataku dengan nada kesal.
“Aneh?!” Kakek merasa heran. Lalu beliau menceritakan tentang kisah Nabi Muhammad yang diberi mukjizat oleh Allah SWT untuk mengeluarkan air dari jari-jari tangannya.
“Itu
Tak hanya itu.
“Pokoknya aku benci air!!!!”
Aku terus merengek-rengek saat kakek menyuruhku minum obat cair yang rasanya pahit ketika aku sakit. Aku tak mau minum obat cair itu. Tapi kakek tak henti-hentinya mencari akal agar aku mau minum sesendok saja.
“Kamu harus sembuh. Coba kamu ingat, selama ini kalau haus kamu minum apa? Mandi pakai apa? Air,
Bila ingat kata-katanya, aku hanya bias tersenyum.
“Kamu pernah mendengar cerita seorang bayi yang menjadi Nabi ketika menghentak-hentakkan kakinya di tengah gurun pasir yang tandus?!” tanya kakek.
Aku mengangguk. Lalu kakek menceritakan khasiat air zam-zam yang membanjiri tempat Nabi Isa yang dibaringkan oleh ibunya di atas pasir. Air itu adalah pertolongan dari Tuhan.
“Begitu juga air yang ada di sungai, di laut, dan di bawah tanah. Tidak selamanya air itu jahat.”
Aku termenung di balik kaca jendela kamar meratapi gerimis hujan. Semakin dewasa, makin banyak pengetahuanku tentang air. Aku tidak ingin membencinya terus. Begitu besar manfaat air untuk makhluk hidup yang ada di muka bumi. Tanpa air, tak akan ada kehidupan. Tiap mahkluk dalam tubuhnya mengandung zat pelarut itu. Aku berpikir. Bagaimana aku bisa membenci air sementara dalam tubuhku mengalir wujud itu? Semasa kecil aku tak begitu mengerti dengan peran air. Aku selalu melihat sisi buruknya saja. Air yang selalu mencelakaiku! Air yang selalu membuatku ketakutan setengah mati. Apalagi saat hujan deras, aku hanya bisa terpaku diam dan otot-ototku menegang.
Tapi sekarang, aku malu pada kakekku. Kenapa dulu selalu ngotot mengatakan bahwa air itu jahat. Seharusnya aku berterimakasih pada alam yang telah menyediakan air. Untukku, dan semua makhluk yang ada di muka bumi ini. Setetes air sangat berarti dan begitu berharga. Dulu—ketika masih kecil seringkali kuhambur-hamburkan air hanya untuk bermain-main. Kadang aku dimarahi ibu karena lupa menutup kran setelah aku memakainya. Kini aku sadar. Air adalah penyelamat hidupku. Di sekelilingku penuh dengan air. Setiap makhluk hidup memerlukan air bersih. Banyak orang yang membutuhkan air bersih.
Setetes air saja mampu menghidupkan sebatang kaktus yang sudah lama sekali tidak menemukan zat yang dapat menyambung hidupnya kembali. Membuatnya terlihat segar bugar. Tidak kuyu atau layu. Kaktus memang tidak perlu sering disiram. Tapi bila ia sudah sangat kehausan, setetes air sangat berharga baginya. Selain air, tak ada yang bisa menyelamatkan hidupnya yang berada di ambang kematian. Walaupun setetes!!!!! Satu tetes saja si kaktus sudah bersyukur. “Kenapa kita sebagai manusia tak pernah bersyukur?!” kata-kata kakek selalu bergaung di telingaku.
“Tapi Kek, aku takut sekali air. Aku pernah bermimpi. Di sekelilingku begitu gersang. Pohon-pohon mati. Lalu tiba-tiba serombongan molekul air berbondong-bondong datang menerjang pepohonan itu. Lambat laun volumenya naik.”
Entah apa yang terjadi selanjutnya karena aku keburu bangun.
“Mungkin itu karena ulah manusia, Nak! Kalau kita tidak mengganggu rumahnya….”
“Rumah, Kek..? Air punya rumah?!” aku memotong ucapan Kakek.
Waktu kecil aku tak tahu menahu soal itu.
“Punya dong! Tiap makhluk punya rumah. Nah, kalau kita tidak mengganggu atau merusak rumahnya, air-air itu tidak akan marah dan melawan kita. Sebaliknya, mereka akan memberi dan menyediakan lebih banyak untuk kita,” jelas kakekku.
Di depanku mengalir air sungai. Jernih. Tak ada sesuatu yang bergerak menyatu dengan riak arusnya. Begitu kakiku dicelupkan ke dalamnya, terasa sangat dingin. Bebatuan ukuran besar dan kecil dihantam oleh amukan gelombang arusnya yang ganas. Tak ada hentinya meluapkan amarah pada batu-batu itu. Setelah menemukan celah yang bisa dilalui, air itu berjalan dengan santainya. Jika menemukan rintangan lagi, ia akan menghadapinya sekuat tenaga. Tidak putus asa untuk menemukan jalan lain. Tak pernah ciut untuk berhadapan dengan benda-benda keras yang berusaha menghalangi jalannya. Sesempit apa pun celah yang dilalui ia terima dengan lapang asalkan dirinya bisa melanjutkan siklus hidupnya yang terus berputar. Tak pernah berhenti.
Namun, siapa yang telah menghancurkan hidupnya? Mengubah perjalanan hidupnya yang kian hari kian ganas. Jawabannya manusia. Makhluk hidup yang memiliki akal dan nalurilah yang telah mengubah wujud fisiknya. Warna. Menjadi keruh. Berbau menyengat. Hingga ingin muntah. Padahal tak sengaja menghirupnya. Berasa nano-nano pula. Bahkan jika diminum dapat menimbulkan penyakit. Terlebih dapat menyebabkan kematian.
Jerit dan tangis sang air tidak pernah di dengar oleh manusia. Tatkala manusia membakar atau merobohkan rumah-rumahnya, mereka hanya bisa mencerca dengan kebisuan. Tak sanggup melawan secara langsung. Tetapi, diam-diam mereka bersatu. Bermusyawarah. Mengadakan sebuah rapat. Menghalau masa dari setiap penjuru dunia yang telah terzalimi. Saling berpegangan tangan. Membentuk rantai panjang. Berisi molekul-molekul yang lebih besar dan lebih kuat. Berarak menuju tempat yang mereka inginkan. Luapan emosinya bisa memporak-porandakan segala sesuatu yang ada di muka bumi.
Kacamata sang air, hanya dapat membaca tulisan MANUSIA. Mereka tidak punya indera yang dapat membedakan mana manusia bersalah dan tidak bersalah. Meski mereka tidak ingin manusia yang selalu bersyukur ikut ditelan olehnya, mereka tidak bisa mengendalikan rem arus kuatnya. Air-air itu hanya menjalankan tugasnya untuk menyadarkan manusia.
Air. MEMBERI LEBIH BANYAK!!!! Memang benar apa yang dikatakan kakekku. Jika kita menyayangi alam sekitar, niscaya mereka akan memberi lebih banyak untuk kita. Aku ingat ucapan seorang teman dan menghubungkannya dengan ucapan kakekku tadi. “Jika kita mensyukuri nikmat yang diberikan, maka Tuhan akan menambah nikmat kita.”
Aku berpikir sambil memperhatikan laju aliran sungai. Dalam sekali lagi aku mencoba meresapi kalimat itu. Aku ingat kembali saat aku bertanya pada kakekku kenapa kalau menangis harus mengeluarkan air mata.
“Kek, jika aku menangis dan mengeluarkan air mata terus-terusan, siapa yang akan menghentikan air mataku?”
Kakek mengatakan bahwa kelenjar air matalah yang mengatur produksi air dan dikeluarkan lewat tangisan.
“Yang mengaturnya siapa, Kek?”
“Sang Pencipta.”
“Kek, apa air mata bisa memberikan lebih banyak jika aku ingin mengeluarkannya?”
Sang Kakek diam sesaat. Beliau sedang mencari jawaban.
“Itu tergantung hatimu. Jika hatimu sangat sedih dan tak sanggup menahan kepedihannya lagi, maka kelenjar air mata akan membantumu melegakan penderitaan yang kamu rasakan. Mereka akan memproduksi air mata lebih banyak. Dan bila sudah banyak-mengembung dan membentuk kaca-kaca di bola matamu, mereka akan terlempar, dipaksa keluar.”
“Oooh.”
Waktu itu aku hanya bergumam demikian seolah-olah mengerti kata demi kata yang diucapkan kakek. Sekarang aku tahu arti ucapannya. Air mata yang mengalir setiap kita menangis adalah salah satu nikmat-Nya juga.
“Kek, aku tak ingin meneteskan air mata lagi! Bagaimana caranya agar mataku tidak mengeluarkan air lagi?” pandanganku merapati air terjun yang terus bergemuruh di telingaku.
Butiran airnya jatuh tak berdaya menahan
Sejenak aku merenungi ucapanku tadi. Andai saja mataku tidak mengandung air, mungkin aku tidak bisa menangis. Itu adalah anugrah dari-Nya. Tapi, bila aku tak punya air mata, mungkin aku akan selalu ceria. Tak ada tangis dan tak ada setetes air pun yang membasahi pipiku. Tak ada kesenduan dan mata lebam atau kantung-kantung hitam di bawah mata.
“Tapi Tuhan telah menciptakan-Nya,” sebuah suara tiba-tiba bergaung di telingaku.
“Tapi, aku benci air mataku, kek!” gumamku seolah-olah aku berkeluh kesah pada kakekku yang sudah terbaring tenang di pangkuan-Nya.
Hati dan pikiranku terus berdialog sambil meratapi gerimis air terjun yang tak kunjung reda. Seperti seseorang yang selalu diselimuti kedukaan dan selalu mengeluarkan air matanya.
“Kenapa harus air yang disalahkan?!” tanya suara tadi.
Kurenungkan dan kuresapi pertanyaannya.
Iya, kenapa dari dulu aku selalu menyalahkan air?!
Aku tidak sadar atas ucapanku. Tapi hari ini aku benar-benar ingin menghapus kesedihanku. Aku tak mau lagi mengeluarkan setetes air mata pun. Titik!!!!
Sebenarnya aku tidak mengerti kenapa sampai harus membenci rangkaian tiga huruf itu. A-I-R!!!!!!!!
“Kek, apa tetesan air yang kukeluarkan dari kedua pelupuk mata ini ada manfaatnya?!”
Pertanyaan itu. Aku lupa menanyakannya pada kakek. Tak terasa air mata yang tak ingin kukeluarkan, mulai menetes. Mataku pasti sudah berkaca-kaca untuk menahan aliran yang lebih deras lagi. Tak lama satu titik…satu tetes…dua tetes…tiga tetes…. Air mata pun mulai berderai. Semakin kuat. Seperti hujan gerimis. Atau air terjun beberapa meter di sampingku.
“Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada manfaatnya,” lagi-lagi sebuah suara berbisik di telingaku.
Manfaat???? Tapi aku tak tahu manfaat air mata. Aku mencari jawabannya. “Air mata akan mengobati luka di hatimu. Bila kamu tak sanggup menahan emosi, pasti air mata akan bergulir. Bila kamu sedang sedih dan hatimu tak kuat menahannya, tanpa sadar hati kecilmu akan berteriak minta tolong pada kelenjar mata untuk mengeluarkan air melalui tangisan. Bila kamu merasa senang pun dan tertawa sampai terpingkal-pingkal, air mata juga akan mengalir. Setitik air mata yang dikeluarkan akan membuatmu sedikit lega. Sebagian air dalam tubuhmu adalah kotoran. Dan kamu sewaktu-waktu harus mengeluarkannya. Sebab bila tidak, mungkin akan menjadi penyakit. Memang itu semua di luar kuasamu. Tapi kamu harus bisa mengendalikannya. Jangan sampai air matamu mengering.”
Suara itu! Itu adalah suara dari setitik air yang menetes dari pelupuk mataku……
Aku terbangun dari mimpi. Aku sentuh pipiku sudah basah. Ternyata aku menangis sungguhan. Layar monitor komputerku masih menyala. Air! Itulah judul artikel yang hendak aku tulis. Sebuah buku catatan harianku sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar—pemberian kakek, tergeletak di sampingku.
Air. Dulu, aku sangat membencimu. Tapi sekarang. Aku sangat menyayangimu. Aku harus selalu menjagamu. Tanpamu aku tidak bisa hidup. Meski kau telah membuatku menangis, tapi kau akan tetap setia menemani perjalanan hidupku. Aku sangat membutuhkanmu. Tapi, bagaimana aku bisa membantumu agar terlihat seperti dulu lagi. Bersih. Kilaunya yang bening. Tak berbau. Ataupun tidak berasa. Apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki penampilanmu? Berapa lama aku harus membangun rumahmu kembali?
Kakek. Seandainya masih hidup, aku ingin bertanya padamu. Tentang arti setitik air lebih banyak lagi. Air. Dan air. Aku ingin menggali terus maknanya bagi kehidupan.









0 comments:
Posting Komentar