SELAMAT JALAN KEKASIHKU

| |

Lambaian dedaunan meminta aku untuk mendekatinya. Batang berdiri tegak yang menopang mereka tak membuatku setegak peyangga pohon flamboyan di depan mataku itu. Ragaku seperti tak bernyawa. Bahkan jika dilewati angin pun aku tak yakin mampu berdiri dengan baik. Dimanakah rohku, Ya Allah? Kembalikan ia padaku. Pulangkan ia ke rumahnya. Jangan diombang-ambing di lautan sana. Jangan dibawa ke tengah lapang langit ketujuh sekalipun. Jangan kau tiup dia ke padang gersang. Berikan ia kembali kehidupan, Ya Rabb. Seonggok daging yang membalut tulang belulang dan menjelma menjadi sesosok tubuh manusia ambruk di atas dipan.

“Dimana kau sekarang, wahai kekasihku?”

Jeritan demi jeritan bermuara di setiap dinding sudut kamarnya. Apalah arti kenyamanan jika indera perasa sudah tak berdungsi. Apalah arti keindahan jika yang indah dipandang seolah tampak seperti benda mati yang tak memiliki nilai seni. Apalah arti kepuasan jika hati selalu merasa penasaran.

“Dimanakah kau berada, wahai kekasihku?”

Rintihan demi rintihan terlempar ke dunia luar. Kemanakah aku harus mencarimu? Hai Camar! Bawalah aku menemui kekasihku. Tidak. Tidak. Jika kau tak bisa membawaku, sampaikan ungkapan perasaanku padanya. Hai Camar! Pergilah. Temui kekasihku dan kembalilah jika kau sudah dapat kabar darinya. Berjanjilah padaku kalau kau akan membawa berita baik untukku.

“Hai ombak…..Bawalah aku pergi ke tempat yang jauh!”

“Hai alam… Kurunglah aku bersamamu supaya aku menjadi ringan akan beban yang melingkari hidupku!”

“Hai air….Siramlah aku dengan kesejukanmu. Jernihkanlah pikiranku!”

“Hai tanah…Tetaplah bersamaku. Tetaplah jadi tempatku berpijak agar aku tidak masuk ke dalam jurang bumi ini…”

“Hai mentari….terangilah aku agar dapat memilih jalan yang diridloi-Nya.”

ZZZ

Sebongkah batu pasti terlempar ke tengah lautan.

“Hai…!!!!”

Seorang bule yang berpesta ria merasakan Pantai Kuta berteriak. Tapi si pelempar batu nyasar itu tak berkutik. Tatapannya jauh ke depan. Air mata menetes di pipinya. Orang-orang yang lewat di depannya hanyalah debu yang tertiup angin. Mereka geleng-geleng kepala.

“Orang stres kali ya….” ungkap mereka. Sepintas lalu. Farisi beranjak dari tempat duduknya setelah mengusap pipinya.

“Iya aku memang sedang stres!” ujarnya.

Oh dunia, kejamnya kehidupan ini. Dimana harga sebuah perasaan mesti berlabuh?

Farisi berjalan di sepanjang pantai seorang diri. Kemanakah ia akan melangkah? Ia sendiri tak tahu. Lho, kenapa bisa begitu? Yah, sebelum menginjakkan kakinya di Bali, ia telah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Apalah artinya bekerja jika batin tersiksa. Apalah artinya bekerja jika tak mendapat apa-apa selain tekanan demi tekanan. Apalah artinya bekerja bila raga sakit dan batin pun ikut sakit. Semua itu tak akan mendapat pahala apapun. Ya, itulah keputusannya.

Malam tiba. Farisi menjelajahi setiap bangunan yang megah dengan gemerlap lampu. Bule-bule bertebaran dimana-mana. Dinginnya malam tak membuat sedikit pun mereka menggigil di balik balutan kain tipis you can see dan celana pendek.

Sekelompok bule menyuruhnya duduk di antara mereka. Mereka meminta Farisi menemaninya larut dalam obrolan.

Hahahaha….sambil menegak minuman yang ditawarkan mereka padanya. Setegak, ia coba minuman beralkohol itu….Ia merasakan sedikit pusing dan………

“Astagfirullah……!!! Apa yang aku minum semalam? Ampuni aku, Ya Rabb…Aku khilaf…”

ZZZ

“Sayang, aku sedang dalam perjalanan, mau pulang ke rumah orangtuaku. Do’akan agar aku selamat sampai di tujuan….”

Kubaca isi SMS itu berulang kali. Layaknya seorang manusia yang menadapat rezeki nomplok. SMS dari Farisi bagaikan sebuah anugrah. Aku baru mendapat kabar lagi setelah dia menghilang selama satu bulan. Tanpa kabar. Tiba-tiba sekarang….

“Alhamdulillah…Syukurlah….Do’aku selalu bersamamu…”

Senang, bahagia, haru, resah, sedih bercampur dalam satu lingkaran. Ada keinginan untuk bertanya sesuatu pada Farisi. Tapi apa pantas aku bertanya soal itu? Ya Allah, bagaimana dengan perasaan ini? Dia kembali pulang ke rumah orangtuanya berarti itu sebuah pertanda……

Apa dia benar-benar sudah membuat sebuah keputusan yang dianggapnya terbaik. Dimana posisi aku, Ya Rabb? Apakah aku ada arti baginya?

ZZZ

“Andai aku kaya, aku pasti akan melamarmu….Tapi aku miskin. Aku tak punya apa-apa….Tak ada yang bisa dibanggakan dariku. Jika tak percaya, coba tanya pada angin yang selalu menghembuskan nafasku hingga detik ini. Jadi, jangan terlalu berharap padaku…..”

Itulah sebuah jawaban dari Farisi……

Aku menangis sedalam menyelam di lautan. Tak ada cahaya yang mengantarku ke permukaan barang sejenak untuk menghirup oksigen.

Inikah keputusan yang dia ambil? Apakah dia tak peduli dengan perasaanku? Lalu apa yang harus akau lakukan dengan api cinta ini? Apakah aku harus membuangnya jauh-jauh ke tengah lautan sana? Atau kubunuh saja? Tidak…Tidak…Aku sangat menyayanginya lebih dari diriku sendiri.

Lunglai. Berhari-hari hanya tetesan air mata yang menemaniku. Apakah ini balasan untuk perasaanku padanya? Ya Rabb….apa dia ambil keputusan ini karena dia menerima perjodohan dari kedua orangtuanya? Tidak….itu tidak mungkin. Dia bilang dia menyayangiku.

Menyayangi? Apa arti sayang? Banyak makna. Jangan mudah percaya pada ucapan manis lelaki. Jangan menilai dari kata-kata yang ia keluarkan dari mulutnya. Tapi lihatlah bukti nyatanya.

Ya, tapi aku begitu mencintainya. Ya Allah, apa salah jika aku mencintai orang yang tak punya apa-apa seperti yang dia bilang padaku?

“Sinai, aku tak akan menikah sebelum aku bisa buktikan padamu, pada kedua orangtuaku kalau aku bisa menjadi orang sukses. Aku ingin membahagiakan mereka dulu. Aku mohon kamu bisa mengerti. Aku tak akan memikirkan soal cinta dulu. Aku ingin menghabiskan sisa umurku sekarang berjuang untuk meraih kesuksesan demi membahagiakan orang-orang yang aku sayangi. Sinai, maafkan aku. Aku sangat menyayangimu. Aku akan selalu punya rasa sayang untukmu. Tapi maaf, inilah keputusanku….Untuk saat ini aku tak punya cinta, aku hanya punya cita, yaitu cita yang akan aku buktikan padamu suatu hari nanti. Semoga nanti cita itu bisa berubah menjadi cinta. Berdo’alah untukku, Sinai…Untuk keluargaku, dan untuk kita berdua….”

Tetesan air mata mengalir deras. Ingin rasanya menjerit. Pintu ada di ambang ketidakpastian seperti ini sangat menyulitkan gerak langkahku. Apakah cukup sampai disinikan aku bernafas? Ya Rabb….aku ingin berjumpa dengan-Mu. Sudah lelah hati ini. Aku merindukan belaian-Mu. Ya Rabb, jagalah kekasihku. Selamat jalan kekasihku. Semoga kau menemukan cahaya di antara kegelapan. Jemput aku di tempat yang terang dan indah. Berjanjilah kau akan datang menemuiku suatu hari nanti….

Selamat jalan kekasihku…..

ZZZ

Bandung, 2 Mei 2009

0 comments:

Posting Komentar