Tak ada manusia yang sempurna. Sempurna....Sempurna...Seperti yang dilantunkan oleh Gita gutawa. Jadi apakah seseorang berhak menuntut kesempuranaan dari orang lain? Ada si kaya. Ada si miskin. Ada penjahat. Ada orang baik. Jika saja ada individu terlahir sempurna secara lahiriah dan batiniah, pasti ia tak akan minta bantuan orang lain. Toh, ia sudah memiliki keinginannya dengan usaha dan jerih payah sendiri. ”I don’t need your help!” mungkin ia akan bilang begitu setiap kali ada orang yang menawarkan bantuan padanya.
Sempurna...Sempurna.....Sempurna....
Delapan huruf dalam satu rangkaian kata itu terus-menerus bergolak dalam ucapan Lywana. Sudah berkali-kali Lywana menjelaskan arti kata itu pada kedua orangtuanya. Kembali lagi pada permasalahan klasik yang selalu menjadi prinsip orang tua dalam menentukan pilhan calon menantunya.
Lywana telah bertemu dengan seoran pria. Rentang usianya lima ahun, leih tua. Boleh dibilang pas, jika mereka menjadi pasangan. Awal cerita, mereka sama-sama duduk di satu ruangan. Berkenalan dalam suatu kegiatan, forum diskusi. Besoknya, tugas laporan di bawa ke rumah. Oh, maaf mereka sama-sama tidak tinggal di rumah melainkan sedang kost. So, tugas kelompok lima orang pun dikerjakan di kost-kostan.
Sebua kepulan asap memenuhi ruangan 2x3 m2 .
”Sepertinya dia orangnya unik!” kesan pertama Lywana. Semua individu diciptakan dalam bentuk unik. Tapi yang ini lain. Apa yang membedakan dari individu lain?
Lywana mencari perbedaan-perbedaan yang ada dalam diri laki-laki itu. Cipto, namanya. Menarikkah penampilan Cipto sampai dapat membangkitkan keingintahuan Lywana? Maybe! Rambut belah tengah. Wajah tirus. Plus kacamata minus tampak keren. Tubuh berotot Tinggi badan 170cm. Hidung lancip. Jalan tegap. Siapa yang tidak bilang menarik coba sampai ada beberapa wanita ada yang rela jadi kedua?
Semakin hari kadar perasaan Lywana terhadap Cipto laksana mendaki gunung dengan kemiringan tiga puluh derajat. Tak ada yang bisa merayu Cipto untuk diajak sekadar nongkrong di Kafe atau mall-mall. Lumayan dibuat panas. Terus penasaran. Kenapa dia selalu memisahkan diri, ya?
“Na, mau nggak jadi pacarku?”
”Na, udah..sama aku aja ya!”
”Na, aku suka banget lho sama kamu!” sambil berusaha memegang tangan Lywana.
Di saat tema-teman sekelas Lywana menawarkan diri dengan berbagai cara dan kalimat, Lywana tak minat sama sekali. Rayuan gombal, tangkis saja! Karena Lywana menginginkan Cipto! Lywana tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Tak boleh ada satu lelaki pun yang boleh merendahkan harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita. Selalu bersikap hati-hati bila ada laki-laki yang berusaha menyentuh kulitnya barang secuil pun. No way! Tetap saja haram bagi umat muslim bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Memang untuk memperjuangkan prinsipnya tak semudah mengedipkan kelopak mata yang tiap detik pun tanpa disuruh mengatup sendiri.
Lywana mencari tahu tentang Cipto.
“Cipto masih single lho!”
Entah berapa banyak wanita yang mengincarnya. Begitu melangkah ke luar rumah saja, tetangganya sudah pasang muka dan berkata, “Mas, sudah punya pacar belum? Kalau belum, aku mau daftar dong!” Sama seperti Lywana, mereka pun penasaran pada laki-laki yang pintar bermain musik itu. Meski banyak wanita penggoda imannya, Cipto hanya respon dengan senyum tenang. Para wanita itu malah semakin menjadi-jadi. Kecentilan. Senyum Cipto bikin kleper-kleper. Bingung juga harus ditanggapi seperti apa, keluhnya.
Misi Lywana dalam menjalankan tugas sebagai detektif, yaitu meneliti pribadi Cipto diam-diam tak ada yang tahu kalau Lywana mulai memiliki perasaan yang tak dapat ditafsirkan oleh logikanya. Suatu hari, tak ada angin tak ada panas tak ada hujan....lho jadi? Yah, pokoknya Cipto langsung menyambar petir agar berhenti dulu. Ia titip kalimat ”Aku suka padamu. Aku ingin menjalin hubungan serius denganmu.” untuk disampaikan pada Lywana.
Sungguhkah? Benar sekali. Laki-laki yang pernah dicap sebagai playboy ganteng oleh teman-temannya itu membuat sebuah pengakuan. ”Aku sedang mencari calon istri,” katanya. Apakah Lywana bersedia? Pertimbangan matang setelah mengerahkan seluruh sel-sel sarafnya untuk berpikir, akhirnya tak ada halangan lagi bagi Lywana untuk menolaknya. Mereka jadi pasangan kekasih. Maksudnya mereka pacaran, begitu?
Ya, kurang lebih seperti itu. Mereka beberapa kali tampak jalan berdampingan. Berdua? Ya, berdua! Jadi untuk apa seorang wanita menutup kepalanya dengan kain menjulur sampai di atas perut kalau perbuatan seperti itu masih dilakukan? Di mana pemahaman mereka tentang hijab? Apakah batasan antara laki-laki dan perempuan sudah dianggap klasik? Apakah Lywana masih pantas menyandang gelar ”PUTRI EKSKLUSIF” yang diberikan oleh teman-temannya sejak duduk di bangku SMU? Apakah gelar dari orang-orang yang memandangnya itu harus dicabut begitu saja?
Tidak! Tidak! Tentu saja hal itu tak boleh terjadi. Tapi.....Sejuta penyesalan Lywana tak berujung.
”Ya Allah, ampunilah dosaku! Aku bertaubat pada-Mu!”
Lywana pun menjauhi Cipto. Di saat yang tepat. Mereka harus berpisah dikarenakan kegiatan pelatihan sudah selesai. Semua peserta kembali ke kota masing-masing dengan membawa bekal ilmu baru. Tapi, bekal Lywana bertambah berat. Jakarta-Bandung. Jika dilihat di peta memang jauh. Tapi setelah ada tol Cipularang, sekarang dirasa dekat. Sepanjang jalan yang memisahkan kota itu ada aliran elektron yang mengikat hati dua insan. Tegangannya semakin kuat.
Apakah yang terjadi? Cipto tak mau putus hubungan denga Lywana. Why? Because he love her!
Please, wait me to apply to!
Memangnya lamaran kerja, apa?
How long?
Satu bulan? Dua bulan? Tiga bulan?
Tiga bulan sudah lewat. Lywana tak tahan dengan hati tergantung. Dimanakah Cipto? Mana janjinya? Janji palsu! Sama saja dengan laki-laki lain. Nothing special! Selama tiga bulan sama sekali putus komunikasi. Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Selalu saja mesin operator yang menjawab saat Lywana berusaha menyambungkan tali silaturahmi yang putus.
”Untuk apa aku setia padanya kalau sudah tak ada kabar darinya!”
Berulang kali Lywana menanam pernyataan itu dalam benaknya. Aktivitas berhasil menghapus ingatan tentang hari-hari bersama Cipto. Perjuangan hawa nafsu selalu menguntit Lywana. Apakah Lywana berhasil mengatasinya? Baru separuh!
Berhasilkah Lywana menghapus masa lalunya yang telah menjerumuskan ke dalam lembah dosa? Belum! Cipto hadir kembali, mengusik kehidupannya.
”Aku mau ke Bandung!” katanya.
Surprise apakah ini? Apakah ini salah satu keunikan Cipto? Ada rencana apa di balik niatnya itu? Cipto bilang ingin mnenyampaikan dan membuktikan keseriusannya. Lalu kemanakah ia selama ini? Dan apa yang bisa ia bawa ke hadapan orangtua Lywana? Nothing! He just bring hisself!
“Maaf, Na! Aku belum bisa bawa yang lain!”
Lywana sempat bimbang. Seberani itukah Cipto datang ke rumah orangtuanya tanpa membawa pelindung apapun. Pekerjaan? Cipto belum juga mendapatkan tempat untuk mengais rezeki. Lalu apa pendapat orangtua Lywana?
“Bagaimana bisa kamu menghidupi anak kami jika tak punya pekerjaan?”
Nada ayah Lywana melambung.
“Tentu saja saya akan mencari pekerjaan, Pak!”
Cipto membela diri. Namun, apa imbalannya?
“Jangan dekati anak kami sebelum mendapat pekerjaan!”
Subhanallah..............
Setega itukah orangtua Lywana? Dimana rasa belas kasihannya? Lywana lunglai. Badannya semakin kurus. Beban pikiran menyelimutinya. Ia sangat mencintai Cipto! Entah kapan bermulanya perasaan itu tumbuh.
Lywana bukan gadis penurut lagi. Tapi pembangkang. Komunikasi dengan Cipto tetap dilakukan kendati orangtuanya melarang keras. Diam-diam. Sampai suatu hari ia kepergok orangtuanya. Saat tengah bicara dengan Cipto di telepon, seakin terpuruklah mentalnya. Ayah Lywana menyambar telepon genggamnya.
”Jangan pernah jadi pembangkang!” kata Pak Sarto.
Lywana pun menangis sejadi-jadinya.
æææ
Sebuah kabar gembira datang dan membangkitkan harapan. Cipto dapat pekerjaan.
Alhamdulillah....
Lywana bisa bernafas lega. Pernah direndahkan harga dirinya sekali, Cipto belum mau menyerah. Ia datang lagi ke rumah Lywana. Tak ada balas dendam. Darahnya mendidih. Bukan oleh amarah. Tapi jiwa dan perjuangan untuk mendapatkan cinta Lywana dan kedua orangtua gadis itu.
Pukul setengah tujuh pagi, Cipto berangkat dari rumahnya menuju jalan raya. Bis ke arah Pulo Gadung berhasil membawanya ke terminal meskipun harus berdesakan berdiri. Jam delapan pagi ia sudah berada di bis Primajasa. Perjalanan kurang menyenangkan. Weekend dan liburan panjang mengakibatkan kemacetan di jalan raya. Arus menuju Bandung harus merayap. Jalan tol tidak ada pengaruhnya sama sekali di hari seperti ini. Duduk berjam-jam di dalam bis dengan kegelisahan di hati semakin mensupport dia untuk berpikir. Segala masalah bermunculan dalam sel-sel sarafnya.
Tiba di Terminal Leuwipanjang pukul 15.30 WIB. Dimanakah rumah Lywana? Ia lupa-lupa ingat. Naik apa dan turun di mana? Tak ada pilihan lain selain menghubungi Lywana. Dengan sabar, Lywana memberi petunjuk.
”Na, apa aku pulang saja,” kata Cipto ketika Lywana menolak untuk menjemputnya di terminal. Sambungan terputus. Lywana tahu, itu hanya ucapan Cipto di mulut saja. Dan memang benar.
Laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu rumahnya tepat pukul 17.00 WIB. Raut wajah lelah tampak.
”Kasihan sekali Cipto, jam segini baru sampai!” bisik Lywana dalam hati.
Ayah dan ibu Lywana sudah duduk di ruang keluarga. Begitu juga dengan keempat kakak kandung dan kakak ipar Lywana. Berkumpul di sana. Cipto dijamu dengan baik. Selesai meneguk air minumnya dalam cangkir, Cipto diminta pindah ke ruang keluarga.
Waktunya disidang! Trereng....Semua mata memandang pada sesosok insan yang berjiwa pemberani itu.
Ganteng dan menarik! Ya, semua orang di rumah itu mengakui penampilan fisik Cipto. Fisik oke, lolos. Lalu apalagi kriteria orangtua Lywana selanjutnya. Harta? Cipto memang belum memiliki apa-apa dari hasil keringatnya sendiri. Wajar saja, pekerjaan baru ada di tangan. Lalu, bagaimana dengan keturunan? Apakah kacamata keluarga Lywana selalu melihat ke atas, martabat dan kedudukan yang tinggi? Dari kalangan manakah Cipto dilahirkan? Apakah sesuai dengan harapan orangtua Lywana yang sudah memiliki empat orang menantu dan empat pasang besan yang berasal dari keluarga berada dan punya jabatan yang diakui di masyarakat.
”Saya lahir dari keluarga biasa, Pak! Ayah saya asli Jogja dan ibi saya keturunan Sunda.”
Pak Sarto berkerut kening. Sementara itu, Cipto bimbang harus menjelaskan apa. Bagaimana penilaian orangtua Lywana ketika mengetahui kalau ayahku sudah tidak bekerja lagi karena PHK dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan. Kehidupan keluarga hanya mengandalkan toko pakaian kecil-kecilan di samping rumahnya. Ditambah dengan isu kalau kedua orangtua Cipto sudah tidak rukun dan ingin bercerai. Oh, sungguh berantakan keluargaku, keluh Cipto.
Laki-laki itu menunduk pasrah. Beberapa pasang mata memandangnya. Kini giliran kakak laki-laki Lywana yang paling tua, seorang guru agama berprestasi dan dikenal sebagai ustadz juga.
”Apa pengertian akidah?”
”Surat apa saja yang kamu hafal dari Al-Qur’an?”
”Apa tugas kepala rumah tangga? Hadits mana yang akan kamu ikuti?”
.........................................................
Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan seputar agama. Sebisa mungkin dengan mengerahkan segenap pikirannya, Cipto berusaha menjawabnya sesuai dengan pemahaman agama yang ia dapat.
Azis, kakak Lywana senyum-senyum dan sesekali menganggukkan kepala selagi mendengarkan penjelasan Cipto. Ketidakpuasan tampak dari wajah Azis.
Interogasi Azis selesai. Dilanjutkan dengan kakak-kakak yang lain. Lywana membatin. Tak pernah menyangka Cipto akan dibantai habis-habisan seperti ini.
Hati Cipto menciut. Namun, kesabaran melindungi emosinya. Jangan sampai menyulut amarah. Sabar....Sabar....Hatinya selalu bertasbih.
Tak terasa jam dinding sudah berdentang. Pukul delapan malam. Acara interogasi yang tadi diselingi dengan shalat maghrib akhirnya usai. Ketegangan Cipto mulai memudar. Asa masih ada selama belum ada keputusan dan penilaian dari dewan juri.
Detik-detik menegangkan menyeruak ke dalam tubuh Lywana maupun Cipto selepas shalat Isya. Kedua mata Lywana bengkak-bengkak. Tadi ia tidak kuat menahan tangis. Rasanya ingin membela Cipto. Tapi, ia tak berdaya untuk melawan keluarganya. Rasanya ia ingin sekali memutarbalikkan kata-kata mereka. Tapi, prinsipnya untuk menghargai orang-orang yang lebih tua apalagi keluarga harus tetap ditegakkan. Apalagi posisi Lywana sebagai anak bungsu yang segala sesuatu harus manut.
Cipto pun pulang dengan tangan kosong. Keluarga Lywana akan mengabari hasil sidang tadi secepatnya.
æææ
POKOKNYA KELUARGA TIDAK SETUJU. KEPUTUSAN SUDAH TIDAK BISA DIUBAH. CIPTO TIDAK LAYAK MENJADI BAGIAN DARI KELUARGA KITA. TITIK.
Lywana berurai air mata.
”Cipto nggak ada apa-apanya.Pemahaman agama saja sangat kurang. Bagaimana bisa menjadi imam keluarga kalau nggak punya ilmu agama yang baik. Laki-laki itu harus jadi imam. Pemahaman agama kamu sangat baik. Bagaimana mungkin kamu bersanding dengan laki-laki yang nggak lebih baik dari kamu. Ingat, laki-laki itu pemimpin. Wanita nggak boleh menggantikan posisi itu.”
Kata-kata mereka semakin membuat Lywana terisak-isak.
Ya Allah....salahkah bila aku ingin mengajak Cipto belajar agama sama-sama? Apakah aku salah bila menikah dengan orang yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki dirinya menjadi lebih baik?Bukankah itu ladang amal ibadah untukku?
”Kamu adalah anak bungsu. Pantas mendapat yang lebih dari kakak-kakak kamu. Baik itu rezeki maupun jodoh. Kami ingin acara pernikahan yang terakhir dalam keluarga kita lebih baik dari sebelumnya. Kami ingin melihat kamu behagia. Kami harap jodoh kamu juga lebih agamis dan lebih baik rezekinya dari kami. Bukan seorang duda dengan satu anak seperti Cipto. Kamu layak mendapatkan yang lebih baik. Kami semua sayang sama kamu, Lywana.”
Ya Allah...siapa yang harus aku pilih? Keluarga atau Cipto? Jika aku memilih Cipto, berarti aku telah melenyapkan kasih sayang dari banyak orang, semua keluargaku pasti akan memusuhiku dan mencap aku sebagai pembangkang. Ya, benar-benar pembangkang! Tapi.............
Jika aku memilih keluargaku, berarti separuh hidupku berada di dunia lain. Setengah hidupku berada di ambang kematian.
Ya Allah....Aku lelah. Aku ingin istirahat.....Jemputlah aku..................
æææ









0 comments:
Posting Komentar