Lupakan semuanya! Lupakan! Sudah kubilang lupakan! Kamu tidak mau juga mendengar perkataanku? Sudah beberapa kali aku memberitahumu. Sekarang lihat dirimu. Berkacalah di depan cermin. Siapakah dirimu? Lihat wajahmu yang sendu. Kantung matamu semakin membengkak. Kelenjar air matamu berekskresi terus-menerus. Rambutmu pun tiap hari rontok hampir melewati ambang normal. Jantungmu kian hari semakin berdenyut kencang. Bukankah kamu sering merasa ngilu, bila organ itu berdetak, memacu gerak sel-sel darah merah yang terakumulasi dalam organ itu. Sampai kapan kamu bisa menahan rasa sakit itu? Sampai kapan?
Hai Lani! Cermati dirimu baik-baik. Teliti detail-detail yang menjalankan aktivitas sel, jaringan, atau organ dalam ragamu. Aku tidak keberatan jika kamu gunakan loop atau mikroskop elektron sekalipun untuk menganalisa apa yang kamu rasakan. Coba lihatlah isi sel-sel hatimu. Temukan jawabannya. Apakah kamu benar-benar mencintainya? Atau apakah yang sedang kamu rasakan saat ini hanyalah setitik ego atau emosi yang mengendalikan seluruh aktivitas sel dalam hatimu?
Jika kamu memang tidak mencintainya, lebih baik lupakan dia. LUPAKAN!
DEG!
Suara itu membuatku terperanjat. Dalam sekejap sel-sel memoriku berhamburan kesana kemari mencari sesuatu yang bisa dijadikan pegangan. Kata hati yang sedari tadi mengoceh dan mengoceh, serta bergaung di gendang telinga telah mengembalikanku ke alam sadar. Namun hatiku masih galau. Sel-selnya yang terbagi menjadi dua kubu masih beraksi, berdebat saling mengeluarkan pendapat. Mereka mencoba mengeluarkanku dari penjara kebingungan. Mereka sedang mencari jalan keluar agar aku bisa mendapat pencerahan dalam memecahkan masalah. Apalagi kalau bukan masalah yang berhubungan dengan perasaan.
Hampir setiap hari aku mendengar sayup-sayup suara perdebatan sengit dalam organ paling sensitif ini. Tapi, baru hari ini aku mempedulikannya. Mencoba merekamnya dalam kaset di memoriku. Dulu, mereka sempat tersenyum dan sesekali menebar gelak tawa kala aku tak merespon sarannya.
Hai Lani! Kenapa kamu tidak bisa melupakan siluet yang sudah lama kamu lukis dalam memorimu? Apa kamu masih ingin menggoreskan kuas-kuas yang berlumuran cat minyak di atas kanvas sel-sel pengingat yang ada dalam dirimu? Apa kamu masih ingin membuat lingkaran hidup baru bersamanya di kavling kosong dalam kanvas pengingatmu itu?
Hai Lani! Bukalah matamu lebar-lebar! Coba renungkan apa yang kamu inginkan. Coba renungkan apa yang kamu rasakan. Apakah kamu tahu arti tiap goresan degradasi warna dalam kanvasmu? Apa kamu mengerti secara detail setiap titik yang membentuk garis-garis yang kamu buat itu? Apa kamu sadar bentuk apa yang telah kamu sketsa, hai Lani?!
Aku kembali terperanjat. Pandanganku masih menatap ke taman yang kulihat dari jendela kamarku.
Bumi seakan berhenti berputar. Pohon-pohon tidak lagi melambaikan daunnya dengan lemah gemulai kala tertiup angin. Sekalipun daun kering yang sedang menghadapi ajalnya, mereka tak mau menggugurkan daunnya. Batang, ranting, helaian daunnya mati suri. Mereka tidak layu, tapi beku. Nyamuk, kumbang, jangkrik, lebah, bahkan seekor gajah yang biasanya melolong di tengah hutan pun tak bersuara lagi. Bumi pun tidak bergerak. “Untuk apa aku hidup, beraktivitas lagi,” rintih semua makhluk di planet bumi ini termasuk aku.
Jam dinding di kamarku seakan-akan berhenti. Jarum pendek dan panjangnya mematung. Walaupun goncangan gempa tektonik menghadang, benda runcing itu tetap tak bergerak. Seolah sedang berpikir, “Apakah aku akan melanjutkan perjalanan hidup?”
Jantungku sesaat terhenti. Deg! Klep-klep atrium ventrikel dalam jantung mendadak minta cuti untuk melakukan dormansi. “Maaf nih! Aku kepengen istirahat dulu. Aku sudah lelah memikirkanmu.” Itulah bisikan dari dalam hatiku yang sedang melakukan pencarian identitas perasaannya.
Air mataku meleleh. “Apa benar mereka tak mau membantuku lagi? Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah?” ujarku lirih.
Allah Maha Mendengar. Butir-butir embun di kedua pelupuk mataku menyeringai tersenyum. “Lihat dirimu, hai Lani! Berapa liter zat cair yang telah kukeluarkan untukmu? Dengan apa kamu bisa menggantinya? Kamu tak tahu betapa sulitnya aku menahan air mata yang kamu buang beberapa hari ini. Apa kamu tega aku tak bisa memproduksinya lagi? Apa kamu tega melihatku berjuang habis-habisan melawan rasa haus dan dahaga? Heuh! Aku tak rela!”
Aku menunduk sejenak. Lalu menengadahkan kepala dan menatap ke depan. Mataku memandang jauh. Menyelami lorong waktu. EMPAT BULAN YANG LALU.
ôôô
“Kalau tidak keberatan, saya ingin ta’arufan sama kamu.”
Aku teringat akan kalimat yang pernah diucapkan Satya.
APA? TA’ARUF?
“Ya, saya sedang mencari calon istri,” katanya. Ketika mendengar itu, tubuhku langsung merinding. Apa ini kenyataan? Atau hanya mimpi? Namun, setelah sadar akhirnya aku tahu kalau adegan ini adalah nyata.
“Apa kamu bersedia ta’arufan dengan saya?” tanya Satya dengan suara ngebasnya.
Di hari itu juga, akhirnya aku harus membuat keputusan.
“Duh! Maaf ya, saya belum mau serius. Saya masih ingin berkarir dulu. Gimana kalau berteman saja?”
BERTEMAN???
“Ya, berteman,” kataku sekali lagi.
Satya baru menjawab usulku tiga hari kemudian, “Oke...Kita komitmen berteman. Tapi kalau suatu saat nanti saya berubah pikiran, kamu jangan kaget, ya?!”
“Oke....” responku tanpa bertanya dan berpikir lebih jauh.
Proses pertemanan pun berlangsung. Sampai kami pun saling mengenal satu sama lain. Tak terasa satu bulan terlewati. Dan saat itu, Satya bercerita bahwa ia tengah ber-ta’aruf dengan seorang akhwat. Aku pun membayangkan seorang wanita yang setiap harinya memakai jilbab panjang yang selalu berkibar-kibar sewaktu diterpa angin, menutupi setengah badannya. Pasti wanita itu cantik. Pasti wanita itu siap pure jadi ibu rumah tangga dan berjiwa entrepreneur. Pasti wanita itu pintar masak. Pasti wanita itu memiliki sifat kona’ah, menerima apa adanya. Dan tentunya wanita itu paham betul akan ajaran Islam. Dan juga wanita itu mungkin aktivis dakwah seperti Satya.
Eh, kenapa aku jadi memikirkan akhwat itu, ya? Tapi memang seperti itulah wanita yang diidam-idamkan oleh Satya seperti yang pernah ia bilang padaku. Kriteria calon pendamping hidup yang diharapkannya mungkin sulit sekali didapat. Dan aku tidak berkomentar apapun saat ia mengatakannya padaku sebulan yang lalu.
Selama Satya menjalani ta’aruf dengan akhwat itu, ia jadi mengurangi frekuensi mengirim SMS-nya padaku. Yang asalnya tiap hari dan dalam satu hari bisa beberapa kali. Pagi. Siang. Sore. Malam. Berubah menjadi dua hari sekali. Kebanyakan SMS-nya berisi curhatan dia. Dan aku menanggapi hanya selayaknya sebagai teman.
Di tengah pertemanan itu, saya berpikir. “Kok aku mau yah jadi tempat curhatnya dia? Kenapa dia curhat padaku, tidak pada temannya yang sesama jenis saja?” Berkali-kali aku renungkan kalimat itu. “Sepertinya aku harus menjaga jarak dengan Satya. Aku takut merusak proses ta’aruf-nya.”
Akan tetapi tampaknya niatku tidak berhasil. Saat aku ingin menjauh, Satya malah semakin mendekatiku. Dan ia bilang, “Sudah empat kali saya gagal ta’aruf dengan akhwat. Saya sakit hati.”
Beberapa hari ia mengeluh padaku. Dan aku berusaha untuk tetap memberi semangat padanya agar jangan sampai putus asa. “Sabar saja. Mungkin belum waktunya,” kataku.
Saat aku mengetahui ia sering gagal ta’arufan dan sudah putus dengan akhwat yang terakhir dita’arufi-nya, hati ini seringkali bertanya, “Sebenarnya apa yang menyebabkan ia gagal?” Dan akhirnya aku pun tahu jawabannya dari Satya langsung. “Mereka ingin berkarir setelah menikah nanti.”
Lantas apa masalahnya kalau mereka ingin berkarir setelah berumah tangga nanti? Oh, ya aku lupa. Satya kan ingin punya calon pendamping hidup yang ibu rumah tangga, mengurus anak dan pekerjaan di rumah.
“Lan, menurut kamu cara berpikirku kolot ya?” suatu hari Satya bertanya begitu padaku.
“Iya. Di jaman sekarang sulit sekali mencari wanita yang seperti itu. Akhwat sekalipun. Pasalnya, akhwat-akhwat sekarang kan banyak yang beraktivitas di luar rumah. Wanita yang hanya jadi ibu rumah tangga kan belum tentu lebih baik daripada seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai wanita karir dalam hal mendidik anak serta mengurus rumah tangga. Jadi jangan terlalu ngotot seperti itu. Nanti jodohnya malah tidak kunjung datang, lagi.”
Sejak itu, sepertinya Satya merenungkan ucapanku.
Hari berganti hari. Satya tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan yang membuat hatiku bertanya, “Lan, saya boleh tahu tidak. Kenapa kamu pengen banget punya suami orang Jawa? Padahal laki-laki Sunda kan cakep-cakep.”
Apa maksudnya? Jangan-jangan Satya berubah pikiran? Dia kan berdarah Jogja juga. Dengan rinci, aku kemukakan alasan-alasanku. Dan Satya pun mengerti.
Hari berikutnya, ia bertanya lagi. Bagiku pertanyaan-pertanyaannya sangatlah aneh. Setiap hari, ia menanyakan aktivitasku. Padahal ia tahu sendiri kalau kegiatanku selama menunggu panggilan kerja yang entah kapan datangnya adalah aktif di sebuah LSM lingkungan dan waktu senggangku aku gunakan untuk membuat karya tulis. Kenapa ia masih bertanya lagi? Tak hanya itu. Satya juga banyak bercerita tentang dirinya. Aktivitas dakwahnya. Dan masih banyak lagi yang kuketahui tentang dirinya.
Aku bertanya. Untuk apa ia memberitahuku soal perjalanan hidupnya? Apakah ini sebuah bentuk promosi? Apa ia benar-benar sudah berubah pikiran? Ah, entahlah. Aku sendiri jadi tidak mengerti dan hanya membuat kepalaku pusing jika terus memikirkan yang tak pasti.
Ya Allah....Tapi kalau sekarang aku masih sering SMS-an dengan Satya, aku takut suatu saat nanti aku akan menaruh perasaan padanya. Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak boleh menyukainya selain suka pada seorang teman. Why not? Itu karena aku tidak boleh melanggar suatu ikrar yang pernah kami buat. Aku dan Satya sudah membuat sebuah KOMITMEN. Kami hanya BERTEMAN. Tidak lebih. Dan aku tak boleh merusak persahabatan dengannya.
Ya Allah.....Bagaimana kalau hal ini sampai terjadi?
Aku takut sekali, Ya Allah.......
ôôô
Aku tidak boleh sering-sering SMS-an dengan Satya. Itu satu-satunya jalan agar aku tidak terjerumus ke dalam lubang yang penuh dengan cinta dan harapan karena di dalamnya ada juga sekelompok wujud jahat yang menjelma menjadi sedih, kecewa, dan sakit hati.
“Ya sudah kalau memang Lani maunya seperti itu,” kata Satya ketika aku mengajukan usul untuk mengurangi kuantitas SMS-an.
Namun hal itu hanyalah persetujuan tanpa pelaksanaan. SMS-an kami tetap saja berlangsung. Tiap hari ada saja topik pembicaraan. Sampai akhirnya sahabat dekatku yang pernah aku kenalkan pada Satya—Runi—melayangkan sebuah berita besar padaku. Runi membuat sebuah pengakuan.
“Kemarin aku SMS-an sama Satya. Aku ingin tahu perasaan dia sama kamu.”
“Apa kamu bilang?”
“Dengarkan aku dulu, Lan. Dari dulu Satya sebenarnya Satya sudah ingin melamarmu. Tapi......” Runi tidak meneruskan kalimatnya.
Aku hampir saja melempar gagang telepon. Benarkah? Apakah yang dikatakan Runi benar? Tapi selama ini Runi selalu berkata jujur padaku. Benarkah? Aku bertanya untuk yang kedua kalinya. Aku benar-benar tidak menyangka dan tidak pernah berpikiran sejauh itu, Ya Allah.
“Tapi apa, Run?” tanyaku penasaran.
“Satya minder. Satya malu sama kamu, Lan.”
Aku mulai mengerti kemana arah pembicaraan Runi.
MALU? MINDER?
“Kenapa Satya mesti minder dan malu?” aku bertanya pada Runi.
“Kamu lupa ya siapa dirimu ya, Lan? Pendidikanku kan jauh lebih tinggi dari Satya. Dia jebolan STM sementara kamu S1. Aku bilang pada Satya, so what gitu lho sama jenjang pendidikan. Tapi ia tidak meresponnya.”
“Jadi, karena itu ya?”
“Yup! Betul! Itu salah satu alasannya.”
“Tapi kalau dia benar-benar mau melamarmu, bagaimana? Apa kamu yakin tidak masalah dengan pendidikan Satya? Apa kamu mau menerimanya? Apa kamu siap menerima dia dengan kondisi yang seperti itu?” tanya Runi dengan nada serius.
“Maksudmu, Run?”
Runi tidak menjawab. Aku mencari jawabannya sendiri. Teringat cerita Satya yang sering pergi ke berbagai daerah bahkan sampai ke luar negeri hanya untuk belajar dakwah. Tujuan hidupnya adalah memang untuk berdakwah.
“Apa kamu siap dia tinggalkan sewaktu-waktu nanti, Lan?” Runi bersuara lagi.
Aku diam. Lalu......
“Alasan yang lain apa, Run?” aku mengalihkan pembicaraan.
“KOMITMEN! Yah, komitmen pertemanan kalian tampaknya jadi penghalang.”
Penjelasan Runi mengingatkanku pada ucapan Satya.
Saya berprinsip: Kalau A ya A. Kalau B ya B. Jadi sebisa mungkin saya pegang prinsip itu.
Astagfirullah!
“Apa Satya tak bisa mengubah komitmen yang pernah dia buat denganku, Run?”
“Ya...”
Desiran angin langsung berhembus dari jendela kamarku. Tiupannya menyelusup ke dalam pori-pori kulitku.
Hari itu juga aku langsung mencari kebenaran dari Satya. Tapi keingintahuanku tampaknya tidak dianggap. Harapanku sirna sebelum kebenaran terungkap. Respon Satya malah membuatku bingung. Sebelum aku mengetahui perasaannya padaku dan sebelum Satya mengutarakan perasaan yang sesungguhnya padaku, Satya keburu bilang, “Sebaiknya SMS-an kita dibatasi. Saya takut prinsip saya hanya ujian buat saya. Saya takut terjadi sesuatu di tengah jalan. Misalnya berubah pikiran yang ujung-ujungnya bikin sakit hati.”
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Satya? Sakit hati? Apa pernah selama ini aku menyakiti hatinya? Ya Allah, kenapa Satya berkata seperti itu? Apa ia masih trauma dengan ta’arufan-nya yang dulu? Apa ia takut ditolak atau takut gagal lagi? Aku sungguh tidak mengerti. Tidak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa.
Perang dingin di antara kami pun meledak bagai bom waktu. Aku mendadak jadi sensitif sejak Satya sering mengucapkan ribuan kata maaf. Sejak mendapat berita dari Runi, aku merasa Satya sensitif. Ia selalu merasa bersalah. Setiap kata yang diucapkan takut sekali menyinggung perasaanku. Ia bilang, “Saya tidak mau menyakiti perasaan siapapun, termasuk Lani.”
Ya Allah....Pertanda apakah itu? Apakah orang yang sedang sensitif hatinya—sepertiku—selalu menandakan bahwa orang itu tengah jatuh cinta? Apakah begitu dengan Satya?
“Kalau Lani kecewa bahkan sakit hati, mohon keikhlasannya untuk dimaafkan.”
Itulah kalimat terakhir yang dikirimkan Satya padaku lewat SMS.
Tentu saja aku kecewa. Karena kamu berusaha menutup mata hatimu jadi kamu tak pernah mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Tanpa disadari, aku sudah punya feeling sama kamu. Aku tak pernah melihat seseorang dari pendidikannya. Asalkan orang itu bertanggung jawab dan bisa membimbingku untuk tetap berada di jalan yang benar kelak, aku insya Allah bersedia menemaninya seumur hidup. Dulu, aku menolakmu itu karena aku takut. Dulu aku belum siap untuk berumah tangga. Tapi setelah mengenalmu, aku berubah pikiran. Dan aku niatkan jika suatu saat nanti ada yang ingin ber-ta’aruf denganku, aku harus mencobanya. Siapa tahu memang berjodoh. Perlu kamu ketahui. Aku bukan tipe orang yang melihat seseorang dari sisi yang dzahir seperti yang pernah kamu ungkapkan padaku kalau orang-orang di jaman sekarang lebih melihat pada penampilan, harta, pangkat atau kedudukan. Aku bukanlah orang yang seperti itu. Dan sekarang ketika aku tahu kamu merasa minder, aku jadi bingung. Bukankah kamu sendiri sangat tahu bahwa yang membedakan manusia di mata Allah hanyalah iman dan ketakwaannya. Dan mengenai komitmen. Menurutku, sekuat apapun memegang prinsip, manusia bisa saja berubah pikiran kalau Allah menghendakinya. Jika kamu menginginkan aku mengubah komitmen itu, insya Allah aku setuju kecuali jika aku memang tak punya perasaan apa-apa padamu. Tapi nyatanya, kamu malah mengungkapkan usul yang pernah aku lemparkan padamu. Kamu malah berniat mau menjauhiku. Kamu malah mau menghindar. Kamu sudah terbelenggu oleh prinsip dan ditikam oleh JARUM KOMITMEN. Apa kamu benar-benar tak bisa mengubah komitmen itu, Satya? Sekalipun hatimu berbicara kalau kamu pernah menyimpan perasaan padaku, meskipun setitik?
Air mataku berlinang saat menulis isi pesan yang hendak kusampaikan pada Satya. Pesan itu hanya aku simpan dalam outbox di handphone-ku. Tidak pernah aku kirimkan.
“Maafkan aku, Satya. Aku bingung bagaimana harus menyelesaikan masalah ini. Aku juga tidak tahu apa yang kamu pikirkan. Katamu masalah ini sudah jelas, tidak perlu diungkit atau dibicarakan lagi. Tapi aku benar-benar tidak mengerti apa maumu.”
Jadi aku putuskan untuk diam. Aku ikuti kemauanmu saja. Aku ikuti saja kemana kamu mengalir. Aku terlalu lelah memikirkannya. Harus seperti inikah cintaku bermula dan berakhir?
ôôô
Masa-masa indah! Lorong yang boleh dibilang sebuah terowongan panjang yang dulu terang-benderang itu kini bagiku serasa gelap. Walaupun cahaya berpendar, memancarkan sinar dari sorot lampu-lampu yang bertengger di sepanjang langit-langit lorong itu, aku tetap saja merasa kurang terang.
“Tolong aku! Aku ingin melihat lagi hari-hariku yang kemarin…” pintaku sambil memelas.
“Apa gunanya kamu lihat kenangan itu?” tiba-tiba ada suara nyaring di tengah jeritanku. “Kalau aku tidak bisa melihat masa itu dengan beribu-ribu lampu sekalipun, siapa yang akan menerangiku?” tanyaku.
“TUHAN-mu!”
Dup! Lup! Dup! Lup! Organ pemompa darah berirama. Sistol! Diastol!
“Tuhan?” tanyaku lagi. “Ya, Tuhan-mu!” tegas suara itu meyakinkan.
“Ya Allah, maafkan hamba-Mu…” Begitu entengnya aku mengatakan itu. Dulu, saat senang aku lupa pada-Nya. Kala sedih, ditimpa kesulitan, aku baru mengingat nama-Nya. “Heuh! Manusia…manusia…” kudengar bisikan dengan aksen sinis.
Selama setengah jam, aku bersimpuh di atas hamparan sajadah yang bergambar Ka’bah. Sekarang aku hanya bisa mengadu dan memohon ampunan-Nya.
Sejam kemudian, kupalingkan muka. Aku tak boleh terus menoleh ke belakang. Pandanganku harus lurus ke depan. Lalu aku tundukkan kepala. Kulihat sebuah bayangan yang tertangkap retina di bola mata. Sebuah sosok! Sosok yang sedari tadi ingin kulihat. Kini kembali hadir.
Memang benar yang dikatakan semua organ ragaku. Jiwa dan ragaku berbeda aliran. Mereka belum bisa menyamakan tujuan hidupku. Sosok ramah, senyum yang tersungging di kedua bibirnya membuat hatiku luluh. Siapa yang tidak? Tiap bertemu, sosok itu selalu menyapaku dengan ramah. “Hai, Lani! Apa kabar?”
Sungguh tak disangka, sosok berwajah kalem—bayangan laki-laki itu selalu menghantuiku. Kemanapun aku pergi, selalu kuingat kata-kata yang diucapkan lelaki itu. “Bersikaplah lebih dewasa, berpikir dewasa!”
Tiap kali berdo’a pada-Nya, “Ingatlah Tuhan-Mu..”. Kala musibah atau cobaan menimpaku, “Jangan pernah mengeluh…Don’t give up! Ganbatte kudasai!”
Kalimat-kalimat itu selalu dikatakan Satya padaku.
Hai Lani! Apa kamu masih berharap padanya setelah kamu tahu dia malah ingin menghindar darimu? Jangan biarkan magnet-magnet berlainan kutub yang ada dalam hatimu terus-menerus menyiksamu. Bila dibiarkan terlalu lama, aku tidak yakin engkau kuat melawan
Roda kehidupan terus berputar. Angin tak pernah berhenti meniupkan hembusannya. Sekecil partikel atom pun tetap berhembus. Sudahlah! Lupakan masalah ini untuk sementara. Lupakan dia! Atau kalau kamu tidak bisa, hilangkan perasaan itu dari lubuk hatimu yang paling dalam sekalipun. Insan lain yang lebih baik darinya masih banyak.
Lupakan? Aku tak berdaya. Aku tak punya kekuatan untuk itu. Aku bingung. Aku takut. Jika kulepaskan tangannya, apa aku bisa melupakan bahwa aku pernah punya perasaan padanya? Tolong beri aku jawabannya!
“Kamu pasti bisa! Bukankah selama ini kamu berprinsip: Jika kamu merasa bisa, pasti kamu bisa melakukannya. Apapun itu. Dan aku yakin kamu bisa melewati cobaan ini.” Bisikan hati kecilku sedikit memberikan ketenangan.
Hai Lani! Sekarang angkat kepalamu. Tengadahkan! Tatap masa depan. Tepat sejajar dengan pusat bola matamu. Lihatlah! Apa sosok itu hadir disana? Apakah Satya akan mengubah komitmennya? Kamu tidak tahu
Yakinlah! Semua kejadian yang telah kamu alami mungkin adalah jalan yang terbaik. Pasti kamu bisa mengambil hikmah besar dari balik semua peristiwa ini. Jadi berbahagialah. “Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal yang terbaik. Tapi mereka berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang pernah hadir dalam hidupnya.” Pepatah itu membuatku optimis menemukan sebuah harapan yang lebih baik. Semoga.
ôôô
Bandung, 9 September 2006









0 comments:
Posting Komentar