HAFI

| |

Lapangan berlantai paving block terhampar luas di depan mata. Mall building berdiri tegak menjulang mendekati langit. Sinar mentai baru beberapa menit yang lalu menjemurnya. Beberapa kepala sesekali menyembul dari area parkir yang terhalangi tembok tinggi. Musik aerobik senantiasa mengiringi gerakan tubuh orang-orang itu. Rupanya ada senam pagi.

Seorang lelaki bertampang keren dan berbadan atletis sudah tiga kali mengelilingi lapangan parkir yang luasnya hampir sama dengan lapangan sepak bola. T-shirtnya yang longgar naik turun mengikuti irama lompatan kakinya. Waah...banyak cewek-cewek cantik nih! Seksi-seksi pula! Sayang sekali, laki-laki yang tengah jogging itu tak meliriknya barang sekilas pun. Maaf, ya tak tergoda sama sekali tuh! Anteng saja dengan aktivitasnya. Menikmati lemak yang bersarang dalam tubuhnya terbakar di bawah terik matahari pagi. Keringat bercucuran tak dihiraukan sampai dirinya menyelesaikan olahraga kakinya.

Huh!

”Capek juga!” desahnya sambil meluruskan kaki-kakinya di pinggir lapangan. Istirahat sebentar. Kemudian ia berjalan ke arah jalan raya. Ketika hendak menyebrangi jalan yang mulai ramai dengan kendaraan bermotor, ada seorang perempuan berjilbab yang hendak menyebrang pula. Busana perempuan itu serba longgar. Blus plus rok panjang. Nuansa serba biru gelap telah membuatnya badannya yang mungil jadi tenggelam. Kerudungnya berkibar-kibar saat ada kendaraan yang lewat.

”Assalamu’alaikum. Mau nyebrang, Teh?” tanya Hafi dengan penuh keberanian.

Perempuan itu mengangguk.

Aku mencari yang seperti ini........

Hafi menoleh pada perempuan tadi ketika sudah berada di sebrang jalan. Tak sadar, gerbang masuk ke kompleks rumahnya masih ditutup.

Dug! Jidatnya kejedot pagar besi.

Astaghfirullah......

MUSLIMAH. BERPAKAIAN SEPERTI YANG TADI. CANTIK. Daaan......

Tiba di halaman rumahnya. Ada cahaya lampu kedap-kedip. Oh, dari HP. Siapa yang kirim SMS nih? Ya Allah....Ada delapan belas SMS.

1) Hai, aku Sirin! Boleh kenalan?

2) Halo Mas, lagi ngapain? Leh ga aku jadi pacar mas?

3) Mau ikut ta’arufan donk! Aku Uji. Nama kamu siapa?

4) Ass. Pagi...Namaku Resti, 24th, udah kerja. Kita ketemuan, yuk?!

5) Hi honey bunny sweety.....kita pacaran mau ga?

Astaghfirullahal’adziim....

Hafi mengusapkan kedua telapak tangannya ke muka. Ternyata begini ya wanita-wanita zaman sekarang. Berani dan pandai berkata-kata pada lawan jenis.

6) Good morning! Are you handsome?

Gaya banget pakai English.

Kalau beneran bule, kira-kira mau nggak ya jadi istriku? Hehe.....

7) Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya Maesyarah, 35th, tinggal di Dago. Jika berkenan, saya pengen ta’arufan dengan akang. Boleh minta biodatanya? Saya sedang mencari ikhwan yang sholeh. Terima kasih.

Tiga puluh lima? Umurku kan dua puluh sembilan. Daun tua? Nggak kaleee....Aduh! tapi kasihan juga ya umur segitu belum juga menikah. Eh, tapi siapa tahu dia janda? Ah, kenapa mesti ikut ribet begini. Nggak usah direspon deh!

8) Septi mau kenal donk dengan Akang.....Boleh ya!

9) Ass. Mas, aku cantik lho! Mas pasti nggak bakalan nyesel deh! Namaku aja Kirei. Kalau mas orangnya gimana?

KIREI....Apa dia blasteran Jepang? Artinya memang cantik. Tapi apakah secantik orangnya, ya? Hafi benar-benar penasaran.

10)................................

......................................

æææ

Baju coklat, kerudung coklat, celana hitam, dan kerudung coklat. Yah, mudah-mudahan saja Hafi ingat dengan ciri-ciri wanita yang hendak ditemuinya. Namanya Rosi. Umurnya kira-kira........berapa, ya?

Hafi membuka buku catatan. SREEET....Daftar nama wanita berderet panjang. Nama, umur, tempat tinggal, pekerjaan, dan ciri-ciri fisiknya. Ya ampun! Kayak struk belanjaan saja. Banyak betul koleksi Hafi. Wait.....Mereka-mereka ini belum pernah Hafi temui lho!

Halteu? I think it’s not a good idea to have meeting with someone new. Sudah terlanjur. Janji harus ditepati.

Baju coklat, kerudung coklat, celana hitam, dan kerudung coklat..........

Baju coklat, kerudung coklat, celana hitam, dan kerudung coklat..........

Baju coklat, kerudung coklat, celana hitam, dan kerudung coklat..........

Sudah sepuluh menit duduk di halteu, belum ada penampakan juga. Rosi kemana sih? Hafi melirik benda yang melingkar di pergelangan tangannya.

Wah...kok rapih, ya! Wanita karier banget!

Hafi menghampiri wanita yang sedang duduk di bangku halteu, agak jauh darinya. Baru saja hendak membuka mulut untuk menyapa, wanita itu sudah lebih dulu beranjak dari tempat duduknya. Telunjuknya terjulur ke jalan raya. Eh, kenapa dia menyetop DAMRI patas, ya? Cengo deh! Wanita yang dikira Rosi itu berlari menuju pintu bis yang terbuka.

Kepulan asap dari tetangga sebelah membuat Hafi terbatuk-batuk. Sial benar hari ini. Sudah menunggu lama. Di halteu bis pula! Wanita yang aneh! Ia menggerutu soal Rosi. Tiba-tiba, dari arah samping kirinya ada yang bicara.

”Mas Hafi, ya?”

Ketika dilirik....

Astaghfirullah...............

Hafi tertawa terpingkal-pingkal. Rosi bukan muslimah, tapi preman bok!

Buku catatan hariannya ia buka kembali.

Kirei yang aku kira secantik bidadari, ternyata berbobot bak raksasa dan berpakaian serba metalik. Nafasnya saja sampai mendengkur ketika bicara. Mungkin saluran pernafasannya terjepit gumpalan lemak yang ada di tubuhnya. Mendengar suaranya, Hafi ikut-ikutan bengek. Sampai tak tahan lagi berhadapan dengan gadis raksasa yang baru berusia dua puluh tahun itu lagi, ia pamit secepat kilat. Harapannya sirna sudah.

æææ

Dua tahun adalah bukan waktu yang singkat. Di saat teman-teman Hafi sudah menemukan pasangan hidupnya, laki-laki ini masih sibuk kebat-kebit ta’arufan dengan wanita-wanita yang baru dikenalnya. Bagaikan capung yang terus melayang di awan kelabu. Walaupun hujan, badai, dan petir menerjang tapi masih bertahan mengepakkan sayapnya di angkasa hingga impian datang menjemputnya. Hafi tak pernah menyerah dan tetap optimis bahwa suatu hari ia akan menemukan calon pendamping hidup yang tepat baginya. Sebenarnya wanita yang seperti apa sih yag diidam-idamkan laki-laki itu?

MUSLIMAH?

Oke...Beberapa muslimah pernah ia ta’arufi. Tapi...Belum ada yang cocok juga. Lantas apalagi yang dicarinya?

KECANTIKAN?

Yah, bisa dibilang begitu. Hafi menginginkan wanita yang tak kalah cantik dengan ibunya. Berhasilkah ia mendapatkannya? Tentu saja. Laki-laki setampan Hafi pasti banyak dilirik wanita cantik dong! Tapi........

”Ketika aku ajak bicara, rasanya komunikasi di antara kami tidak lancar. Jadi untuk apa mendapatkan wanita cantik tapi kalau diajak bicara nggak nyambung.” Begitulah pendapat Hafi.

Berarti masalahnya KOMUNIKASI. Hafi pun mencari wanita yang nyambung dengannya. Ternyata tak semudah itu. Hafi merasa hambatan selalu mengiringi perjuangannya untuk mendapatkan calon pendamping hidup.

Capek deeeeh.....!!!!

Laki-laki itu menghempaskan diri di tempat tidurnya. Titik jenuh mulai menyerang seluruh jiwa raganya.

TAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA.

Sebuah bisikan merasuk ke dalam relung hatinya yang kosong.

APAKAH KAMU HIDUP DI DUNIA INI UNTUK MENCARI KESEMPURNAAN?

Bukan!!! Tentu saja bukan!

Hafi menjawab bisikan hatinya sendiri. Ia mulai merenung. Ia juga teringat akan setiap ucapan sahabatnya yang selalu mengkritik segala tindakannya.

Kak Hafi egois!

Kak Hafi nggak punya perasaan! Niatnya mau ta’arufan dengan A, malah suka sama temannya, B. Okelah kalau B memang lebih cantik dari A, tapi lihat sikon dong! Apakah itu namanya bukan merusak persahabatan A dan B?

Coba berkaca di depan cermin. Tanya pada bayangan apa kekurangan Kak Hafi!

Jangan pernah sekali-kali menilai pribadi seseorang dari penampilan luar saja.

Jangan pernah memandang sebelah mata terhadap wanita yang Kak Hafi anggap bukan seorang muslimah dikarenakan wanita itu jilbabnya tidak panjang.

Jangan pernah memandang rendah terhadap wanita yang masih belum berjilbab tapi aurat yang lainnya tertutup. Siapa tahu ia sedang mencari hidayah.

Jika Kak Hafi mempersunting wanita seperti itu bukankah itu ladang amal dan ibadah buat Kak Hafi jika dapat membawanya ke jalan yang benar?

Salma....

Kesadaran Hafi terbuka. Salma adalah sahabat wanita yang selama dua tahun ini selalu menjadi tempat curhatnya.

Bagaimana kabar Salma sekarang, ya?

Sudah dua bulan tak ada komunikasi dengan Salma. Hafi segera menghubungi ponsel Salma. Tapi, nomornya sudah tidak aktif.

Lalu ia mencoba menghubungi telepon rumahnya.

”Assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Salma?”

”Wa’alaikumsalam...Ya, saya sendiri...”

Rasanya Hafi merindukan suara ini.

”Maaf mengganggu Salma, aku Hafi....”

Suara di balik telepon seolah ditelan bumi.

”Hallo....Hallo....Salma???”

Salma bergeming sejenak.

”Iya, ada apa?” nada Salma terkesan begitu dingin. Tak ada sorak. Tak ada kegembiraan yang terdengar dari getaran suaranya. Tidak seperti biasanya respon Salma seperti ini.

”Apa kabar?” tanya Hafi.

”Alhamdulillah baik,” jawab Salma singkat.

Salma berusaha mengumpulkan segenap keberanian untuk bicara dengan Hafi, laki-laki yang sudah membuatnya jatuh hati. Selama ini Hafi tak pernah mengetahuinya. Salma pun tak punya kekuatan untuk mengungkapkannya pada laki-laki itu. Kenapa?

Salma merasa bukanlah wanita cantik dalam pandangan Hafi. Salma juga bukanlah seorang wanita muslimah yang ciri-cirinya sering diucapkan Hafi jika sedang curhat. Salma adalah wanita yang sedang belajar dan mendalami Islam. Terlebih, Hafi juga hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tak lebih. ”Aku nggak mungkin mengubah sahabatku menjadi seorang pendamping hidup,” Hafi pernah mengatakan hal itu padanya.

”Maaf Kak Hafi, Salma lagi banyak urusan. Salma sedang menyiapkan acara pernikahan. Mohon do’anya. Acara akad dan resepsi akan dilaksanakan tanggal 19 Januari nanti..........”

SALMA???

Salma............

Salmaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa........................

Hafi terbangun dari tidurnya.

Ya Allah....ini hanya mimpi. Bagaimana jika Salma benar-benar akan menikah dengan orang lain?

Tidak.....Jika itu terjadi, aku akan menyesal seumur hidup.......Aku sudah menyia-nyiakan seorang wanita yang berhati baik. Aku tak ingin menyakitinya lagi dengan curhat keegoisanku. Aku harus segera melamarnya. Terima kasih Ya Allah........Aku ingin membawa Salma ke surga-Mu.

æææ

0 comments:

Posting Komentar