Sebuah kartu warna biru tua tergeletak begitu saja di atas rak buku. Debu-debu yang menyelimuti kartu itu cukup tebal. Benda segi empat tipis itu tak mengkilap lagi seperti semula. Setahun yang lalu. Tak ada tangan yang mau dan berani menyentuhnya, sekalipun pemiliknya. Biarkan saja!
“Sara…Sara…”
Sayup-sayup terdengar suara merdu seorang ibu. Memanggil nama seseorang. Srek! Srek! Srek! Suara langkah sandal karet berirama. Memecah kebisuan suasana rumah. Seorang perempuan berumur sekitar empat puluhan berjalan menuju sebuah ruangan besar yang di sekeliling dindingnya terpajang foto-foto dan lukisan tiap anggota keluarganya. Sepasang suami istri dengan dua orang anak perempuan. Semuanya berkostum serba kuning keemasan, berpakaian baju adat khas Jawa Barat.
Suasana ruangan begitu hening. Dinding rumah yang dicat warna kurang cerah memberi kesan ruangan serasa gelap. Beberapa barang-barang antik yang berpose di setiap sudut ruangan tampak membuat orang yang berkunjung ke rumah itu akan merasa merinding. Bulu kuduk mendadak berdiri tegak.
“Saraaaaa…” suara seorang wanita terdengar lagi. “Kemana sih tuh anak,” ia mengomel. “Dipanggil-panggil dari tadi.” Wanita itu berteriak dan terus-menerus menggerutu. Sebelum ada suara yang menyahut, ia tak akan berhenti bicara dengan suara lantang.
“Sebentar, ya?” ujar seorang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun pada suara di balik telepon. Menghentikan pembicaraan dengan temannya sejenak. “Iya, Mam…” teriaknya dari kamar lantai atas. Gadis itu sedang bicara dengan Fina-sahabat karibnya sejak SMP. Sampai detik ini, Sara makin akrab dengan Fina dan Indah. Kemana-mana, mereka selalu pergi bersama. Shopping ke mall, jalan-jalan, belajar pun selalu bersama-sama. Walaupun sekolah mereka sudah berbeda, ketiga gadis remaja itu pasti bisa meluangkan waktunya untuk bertemu di hari libur. Saling berkunjung ke rumah teman telah menjadikan mereka dikenal dekat dengan keluarga sahabatnya. Bahkan sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
Entah angin apa, tiba-tiba hari ini Sara ingin bertemu dengan Fina dan Indah. Padahal mereka baru bertemu kemarin sore hingga buka puasa bersama di rumahnya. Benar-benar hari minggu yang aneh! Apa Sara kangen pada kedua gadis itu?
“Pokoknya wajib datang, OK?!”
“Fin, maafin Sara ya?” Kalimat yang keluar dari mulutnya spontan membuat Fina merasa heran. “Lo kenapa sih, Sar? Maaf apa?” tanya Fina. “Nggak ada apa-apa kok. Kali aja gue punya salah. Ini
“Saraaaaa…..” panggil wanita itu lagi. Gadis itu lekas menyeka tetesan air matanya. Kenapa jadi cengeng begini, bisiknya. Gadis berbadan mungil yang pembawaannya selalu ceria, menuruni tangga dengan lunglai. Dan mukanya cemberut. Tidak seperti biasanya. Selalu tersenyum riang gembira bila dipanggil Mamanya. Walaupun Mama sedang marah, ia selalu mencairkan suasana dengan tawa dan canda untuk menghibur ibunda tercintanya—seorang ibu yang selalu menuruti keinginannya. Minta apapun, Mama pasti tak pernah tidak mengabulkan permintaan anak sulungnya.
“Iya Mam,” kedua kalinya Sara berkata begitu. Ia menemui Mamanya di ruang keluarga. Mama gadis berusia delapan belas tahun itu sedang duduk di sofa. Tangan kanannya sedang memegang balpoin, menuliskan sesuatu di note book hariannya. “Oh, mungkin daftar pengeluaran rutin bulanan,” pikir Sara sembari berjalan menghampiri Mamanya.
“Dari tadi Mama panggil,” gerutu ibu itu. Sara minta maaf. “Ya udah, lain kali kalau Mama panggil lekas datang,” ujar Mamanya ketus. Mama membuka dompet kulit warna hitamnya. Lalu tangannya mencari kartu ATM di antara deretan kartu-kartu berharga lain yang tersusun rapih dalam dompetnya. “Nanti jam sepuluh, tolong ambil uang di ATM,” perintah wanita itu.
“Hah? Apa Mam?!” Sara membelalakkan matanya. “Lho, kamu disuruh kok malah bilang hah, melotot lagi?” Emosi wanita itu mulai naik. Sara tak sadar kalau bola matanya terbuka lebar-lebar. Ia minta maaf. Lalu menjelaskan pada Mamanya kalau hari ini Indah dan Fina akan berkunjung ke rumah.
“Ambil uang
“Huuh, Sara
“Eeeh, kamu ya! Disuruh orangtua. Naik angkot kenapa sih?! Pengen dianter segala. Pokoknya harus ambil hari ini. Tidak ada alasan! Titik!” Wanita itu menyimpan kartu ATM di atas meja lalu masuk kamar. Sara mengeluh sembari menyambar kartu ATM warna keemasan itu. Ia berjalan menuju tangga. Mulutnya tak berhenti mengeluh..
“Sara, Kak Sandri udah nunggu dari tadi tuh!” Wanita berusia hampir setengah abad itu berteriak lagi. Tiba-tiba. TENG! TENG! TENG! Jam berdentang. “Astagfirullah!” Mama Sara kaget sembari memegang dadanya. Suasana rumah mendadak sunyi senyap ketika mendengar dentangan bandul jam antik yang ada di ruang tamu. Suara yang terdengar sangat aneh dan bunyinya pun lebih keras dari biasanya. Apa ini sebuah pertanda atau peringatan? Bulu kuduk Mama merinding. Bahkan Kak Sandri-keponakan Mama yang siap mengantar Sara yang baru saja duduk pun sampai terperanjat. Lalu bergidik.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sara belum juga turun.
“Ngapain lagi sih tuh anak?” Wanita itu mulai kesal. Anak kesayangannya baru hari ini membuat hatinya jengkel. Dipanggil tidak menjawab, disuruh malas. Kalaupun mau pergi tapi terpaksa.
“Saraaaa…” teriak wanita itu sambli melangkah menaiki tangga. Gadis yang dipanggil bergeming. Pendengarannya seakan-akan disumbat kapas. Seperti orang tuli saja. Suara nyaring Mamanya yang memekakan telinga tak didengar olehnya. Tatapan Sara fokus pada foto-foto dalam frame yang duduk di meja belajarnya. Semua bingkai foto dengan kedua sahabatnya full of pink colour. Pokoknya klop lah dengan suasana kamar yang semua serba merah jambu! Wajah Fina, Indah, dan gadis itu selalu tersenyum. Senyum manis tersungging di kedua bibir mereka. Kemudian pandangan gadis itu beralih pada foto keluarga. Papa, Mama dan adik perempuannya. Sara tersenyum penuh arti.
Tok! Tok! Tok! Sara tetap tak berkutik walaupun Mama mengetuk pintu kamarnya berkali-kali. Bola mata Sara menilik satu per satu semua benda yang ada di kamar berukuran 4x4 cm2 itu. Pandangannya larut dalam keheningan.
Gadis itu seperti sedang ada dalam dunianya sendiri—dunia maya.
Matanya melirik kembali pada bingkai foto orangtuanya. Lalu frame power pop girl yang mengelilingi foto kedua sahabatnya. Boneka-boneka yang berserakan di atas tempat tidurnya.
“Sara dipanggil Mama!” Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan imajinasi dunia mayanya.
“Saraaaaaa…”
“Hmm…Mama…???” Sara terperanjat. Ia segera mengambil sweater dari lemari. Tanpa dilihat ia langsung pakai. Krek! Ia buka pintu kamranya yang terkunci dari dalam.
“Iya, Ummi….” ucapnya.
“Apa tadi kamu bilang, Sar?!” tanya Mama heran sambil mengerutkan keningnya.
“Hmm.. Kenapa Mam?!”
Kalimat itu dalam sekejap langsung hilang dari ingatan Mama. Mama mulai marah-marah lagi pada Sara. Tapi gadis itu tak menggubris komentar-komentar yang terlempar dari bibir Mamanya.
“Udah ya Mam, Sara pergi dulu. Dari tadi Mama marah-marah mulu.” Sara pamit. Gadis itu mencium kedua pipi Mamanya lalu ia tempelkan punggung tangan Mama di keningnya.
“Assalamu’alaikum…” Gadis itu meninggalkan Mama yang berdiri terpaku di depan pintu kamarnya.
Brum! Brum! Suara motor di halaman sudah menantinya sejak tadi. Sesaat setelah Sara berjalan menuju halaman depan, suara deru kendaraan roda dua itu semakin menjauh. Ibu berparas ayu itu baru sadar. Barusan dirinya tengah melamun selama beberapa menit.
“Eh, Sar… tunggu…” teriak wanita itu, berlari menuruni tangga mengejar anak gadisnya yang sudah pergi dengan terpogoh-pogoh. Ia tak berhasil menahan kepergian anak sulungnya. Beliau baru saja mengingat sesuatu. Belum sempat menanyakan sesuatu pada Sara.
“Tuh,
“Iya…Iya… Sara juga tahu kok…” Kak Sandri mengendarai motor begitu pelan. Takut kalau-kalau gadis itu tidak mampu menahan berat badannya yang ringan ketika dia ngegas. Walaupun sudah diingatkan, Sara tetap saja melamun. Pikirannya menerawang. Bagaimana kalau Fina dan Indah sudah sampai di rumah? Ia harus beli sesuatu untuk Indah dan Fina. Dalam hati, sepulang mengambil uang di ATM nanti, ia mau minta tolong Kak Sandri untuk mengantarnya ke supermarket dulu. Berbagai macam cemilan sudah ia bayangkan dalam pikirannya. Cheese steak, Taro, dan keripik kentang barbeque! Semua makanan gurih itu adalah makanan favorit mereka bertiga. “Hmmm…uenak…”
“Apanya yang enak?” tanya Kak Sandri yang mendengar gumaman Sara.
“Aaah! Kak Sandri mau tahu aja,” kata Sara yang tampak mulai kedinginan. Ia tak kuat menahan hembusan angin yang menusuk-nusuk pori-pori kulitnya. Ia tarik sweater yang menutupi lengannya. Tak lama kemudian ia kerutkan keningnya.
“Lho, kenapa gue pakai sweater punya Indah? Gue
Sara merasa nyaman memakai sweater itu. Entah sudah terbiasa memakai busana sahabatnya atau bagaimana. Yang jelas saat ia tarik lengan sweater-nya, ia merasakan sebuah kehangatan. nGadis itu tersenyum seraya menatap sweater yang dipakainya. “Ntar gue balikin deeeeeh…” ucapnya dalam hati.
Tiiiiiiiiiiiiiiiid! Tiiiiiiiiiiid! Bunyi klakson terdengar dari belakang. Sebuah truk melaju kencang. Sara menoleh ke belakang.
“Kak Sandri, AWAAAAAAAAAAAAAAAAS!!!!!” Gadis itu melepaskan tangannya dari jaket laki-laki yang mengendarai motor dengan sangat hati-hati.
BRAK! Motor tiba-tiba saja terpental beberapa meter ke arah depan. Tubuh mungil Sara terpelanting ke belakang. Jatuh ke jalanan beraspal. Sopir truk membelokkan kemudinya ke arah kanan badan jalan.
Namun nasib naas tak bisa dihindari. Di belakang truk itu ada sebuah panther yang melesat dengan kecepatan tinggi. TIDAAAAAAK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Kak Sandri yang selamat, tak mengalami luka setitik pun walaupun sudah terpental jauh, menjerit ketika hendak bangun dan berlari mendekati Sara yang terjatuh dan masih berdiam diri di tengah jalan.
“Saraaaaaaaaaaaaaaaaaa……….Minggiiiiiiiiiir” Kak Sandri berteriak histeris. Namun tampaknya gadis itu tak mendengar teriakannya. Kini ia syok karena gadis yang beberapa menit lalu masih terlihat tersenyum seraya berusaha meraih dompet yang berisi kartu ATM yang terlempar jauh, kini berlumuran darah di tengah jalan. Dia mengira setelah jatuh tadi, gadis itu bisa langsung menyelamatkan diri. Siapa yang bisa mengelak dari musibah? Tak seorang pun bisa mencegahnya.
“Apa?!”
“Itu tidak mungkin. Tidak mungkin itu anak saya.”
Sejak peristiwa itu, Mama Sara syok berat. Beliau tidak mau lagi masuk ke dalam kamar anaknya. Semua foto Sara yang dipajang di setiap sudut dan dinding rumah, diturunkan.
“Tante…Apa kabar?!” Indah dan Fina seminggu sekali mengunjungi rumah Sara. Tante Dinar selalu menyambut mereka dengan tangan hangat dan penuh kasih sayang. Namun ketika tangan kedua gadis itu menyentuh telapak tangannya, air mata seorang ibu terurai begitu saja. Setelah menyuguhi makanan dan minuman, Tante Dinar langsung masuk kamar lagi. Ibu itu selalu bersikap demikian bila kedua gadis yang sebaya dengan anak sulungnya bertamu ke rumahnya.
Sudah hampir setahun lamanya, sejak peristiwa menggemparkan itu, beliau tak pernah mau pergi menengok anaknya. Beliau tak pernah ingin melihat anaknya lagi. Tante Dinar tak pernah memaafkan dirinya. Seandainya tak menyuruh Sara pergi untuk mengambil uang di ATM. Seandainya ia bisa mencegah kepergian Sara. Andai saja ia tak mengijinkan Sara dibonceng naik motor. Jika saja ia tahu keanehan yang menyelimuti anaknya akan membawa musibah, mungkin ia mengurungkan niatnya.
“Gara-gara kartu ATM itu,” lirihnya dengan nada sendu.
“Semuanya sudah kehendak Allah, Tante. Tolong ikhlaskan. Tak ada yang bisa lari dari takdir-Nya.”
“Iya Tante. Kami mohon, jenguk Sara sekali ini saja,” bujuk Fina.
“Iya Mam. Kasihan Mbak Sara,” kata Sari dengan suara pelan.
Sari—adik Sara, Fina dan Indah berkumpul di ruang keluarga. Mereka melihat Mama Sara terisak-isak menangis, larut dalam kesedihan.
“Terima kasih. Kalian memang anak-anak yang baik.”
Besoknya, Tante Dinar mau mengunjungi Sara. Beliau ditemani Fina, Indah, dan Sari. Tempat peristirahatan terakhir sahabat mereka—Sara, tampak tak terawat. Bahkan batu nisan yang bertuliskan nama Sara di atas kuburan pun tidak ada. Tumbuhan dan bunga yang mereka tanam di sekeliling makam, tampak mengering dan layu. Padahal saat itu musim hujan. Karena dedaunan kering berserakan dimana-mana, mereka putuskan kerja bakti untuk membersihkan makam almarhumah dan menanam kembali tumbuhan di sekelilingnya.
“Tante,” Indah menyodorkan air bunga yang tadi dibawanya dari rumah.
Tante Dinar mengerti. Lalu tangannya meraih guci dari tangan Indah. Beliau siram ke atas kuburan. Alhamdulillah, sejak Tante Dinar datang kesana, tumbuhan-tumbuhan di sekeliling makam tumbuh subur. Dan anehnya tak pernah layu sekalipun musim kemarau.
Sara tersenyum. Mama akhirnya mau melepaskan anak kesayangannya. Kini, ia bisa istirahat dengan tenang dipangkuan-Nya. Sara….. Gadis itu telah memberi sebuah kenang-kenangan bagi orang-orang yang mencintainya. Sweater abu milik Indah yang dipakai Sara, menggantung di lemari kamar gadis itu. Indah ikhlaskan sweater-nya. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, almarhumah masih bisa tersenyum pada Sari dan Fina sembari menyodorkan sebuah kartu. Kartu ATM……..
“Tolong berikan sama Mama….”
-Feny Mirdaliani-









0 comments:
Posting Komentar