ZERO WASTE

| | 0 comments

Garbage is everywhere. Trash is everywhere. What is it? Is it really a waste? If we talk about garbage, many people said that “All of garbage aren’t useful and need to throw away.” This statement isn’t true. The right statement is “In common there is only 20% garbage that really must throw. The other can be reused, recycled or make as a compos. Our surrounding is much garbage. When we are near by or look for garbage, we feel them smelly and disgusting. Why does it happen? There was explode of human, houses more crowded, people more lavish and lazy to reuse material.

So, what is the solution for this problem? What can we do to help the government? The first, we must know a kind of garbage. The garbage is arranged from different material, so there is different effect to environment and the way to solve this problem. Commonly, garbage was divide in two: (1) Organic garbage (origin from animal and plant), such as food material, paper, wood, dress, garden trash, and etc. (2) Inorganic garbage, that is plastic, metal, and glass. The second step we can do from a little unit—our house. There is a method we can apply at home. We can begin from 3R principal that campaigned by The Ministry of Life Environmental. It is Reduce, Reuse, and Recycle. It will decrease volume of garbage that throws to final garbage thrower. The first R (Reduce), we can start from decreasing consumption something wrapped or packed. For example, if we have business in selling some food, we can change plastic with wrapped paper. As possible as you can, it will get an advantage. The second is Reuse. When we think everything used is unvalued anymore, it’s wrong. If we are creative people, we can reuse it to become things useful. For example we can make a handicraft. Many people have done it and produced some benefit. The last is Recycle. Not all things can be recycled, so we must separate garbage into two parts: organic and inorganic before. Organic trash such as kitchen waste is used for making compos. Shell of onion, seeds of pepper, and other things of it can be use to make a handicraft or wall decoration painting. The other organic material—paper can be recycled. From this we can make paper recycle, handicraft (frame, pin, key accessories), and etc. How to make it? It’s easy and doesn’t need much fee. We just need paper, glue, water, and blender. Beside paper, plastics have some use. We can make everything if we are a creative person.

So, I hope you all can start to separate garbage based on characteristic. Let’s do it from now! Give the best for our surrounding and our city!

Research

| | 0 comments



THE IN VITRO AND IN VIVO ANTAGONISTICS TEST OF Gliocladium sp. and Trichoderma viride Pers. S. F. Gray WITH

Fusarium oxysporum Schl. f. sp. gladioli ( Massey ) Snyder & Hansen

ON GLADIOLUS PLANT

( Gladiolus x gandavensis van Houtte cv. Holland beauty)

By : Feny Mirdaliani

Supervisors are : Prof. Dr. Poniah Andayaningsih, MS and Dra. Nia Rossiana, MS

ABSTRACT

The research concerning antagonistics of Gliocladium sp. and Trichoderma viride to pathogenic fungus Fusarium oxysporum f. sp. gladioli was done to find out the ability of Gliocladium sp. and Trichoderma viride in inhibited the in vitro growth of pathogenic fungus F. oxysporum f. sp. gladioli and to find out the effectivity of Gliocladium sp. and Trichoderma viride in suppressed the damage of gladiolus cormels. The research methode which was used in first stage was in vitro antagonistic test with descriptif methode. In the second stage were in vivo antagonistic test was used a Completely Randomized Design using 2x3 factorial with four replications to find out the influenced of F. oxysporum f. sp. gladioli, Gliocladium sp., and Trichoderma viride fungus on height plants, cormels diameter, cormels weight, and percentage of gladiolus cormels bud growth. Data of in vitro antagonistic test result was analyzed by independent t test, and has been studied descriptively, whereas data of in vivo antagonistic test result was analyzed by Analyses of Varians which was continued with Duncan’s test. Dependen t test analysis furthermore was done to find out changed direction of cormels diameter. The results showed that Gliocladium sp. and Trichoderma viride can inhibit the in vitro growth of pathogenic fungus F. oxysporum f. sp. gladioli, and Gliocladium sp. was more effective than Trichoderma viride. The in vivo antagonistic test result showed that using of Gliocladium sp. fungus can enlarge cormels diameter while Trichoderma viride can decrease height plants and gladiolus cormels diameter.

Keywords : Fusarium oxysporum f. sp. gladioli, Gliocladium sp., Trichoderma viride, Gladiolus cormels, and Antagonistic.



SELAMAT JALAN KEKASIHKU

| | 0 comments

Lambaian dedaunan meminta aku untuk mendekatinya. Batang berdiri tegak yang menopang mereka tak membuatku setegak peyangga pohon flamboyan di depan mataku itu. Ragaku seperti tak bernyawa. Bahkan jika dilewati angin pun aku tak yakin mampu berdiri dengan baik. Dimanakah rohku, Ya Allah? Kembalikan ia padaku. Pulangkan ia ke rumahnya. Jangan diombang-ambing di lautan sana. Jangan dibawa ke tengah lapang langit ketujuh sekalipun. Jangan kau tiup dia ke padang gersang. Berikan ia kembali kehidupan, Ya Rabb. Seonggok daging yang membalut tulang belulang dan menjelma menjadi sesosok tubuh manusia ambruk di atas dipan.

“Dimana kau sekarang, wahai kekasihku?”

Jeritan demi jeritan bermuara di setiap dinding sudut kamarnya. Apalah arti kenyamanan jika indera perasa sudah tak berdungsi. Apalah arti keindahan jika yang indah dipandang seolah tampak seperti benda mati yang tak memiliki nilai seni. Apalah arti kepuasan jika hati selalu merasa penasaran.

“Dimanakah kau berada, wahai kekasihku?”

Rintihan demi rintihan terlempar ke dunia luar. Kemanakah aku harus mencarimu? Hai Camar! Bawalah aku menemui kekasihku. Tidak. Tidak. Jika kau tak bisa membawaku, sampaikan ungkapan perasaanku padanya. Hai Camar! Pergilah. Temui kekasihku dan kembalilah jika kau sudah dapat kabar darinya. Berjanjilah padaku kalau kau akan membawa berita baik untukku.

“Hai ombak…..Bawalah aku pergi ke tempat yang jauh!”

“Hai alam… Kurunglah aku bersamamu supaya aku menjadi ringan akan beban yang melingkari hidupku!”

“Hai air….Siramlah aku dengan kesejukanmu. Jernihkanlah pikiranku!”

“Hai tanah…Tetaplah bersamaku. Tetaplah jadi tempatku berpijak agar aku tidak masuk ke dalam jurang bumi ini…”

“Hai mentari….terangilah aku agar dapat memilih jalan yang diridloi-Nya.”

ZZZ

Sebongkah batu pasti terlempar ke tengah lautan.

“Hai…!!!!”

Seorang bule yang berpesta ria merasakan Pantai Kuta berteriak. Tapi si pelempar batu nyasar itu tak berkutik. Tatapannya jauh ke depan. Air mata menetes di pipinya. Orang-orang yang lewat di depannya hanyalah debu yang tertiup angin. Mereka geleng-geleng kepala.

“Orang stres kali ya….” ungkap mereka. Sepintas lalu. Farisi beranjak dari tempat duduknya setelah mengusap pipinya.

“Iya aku memang sedang stres!” ujarnya.

Oh dunia, kejamnya kehidupan ini. Dimana harga sebuah perasaan mesti berlabuh?

Farisi berjalan di sepanjang pantai seorang diri. Kemanakah ia akan melangkah? Ia sendiri tak tahu. Lho, kenapa bisa begitu? Yah, sebelum menginjakkan kakinya di Bali, ia telah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Apalah artinya bekerja jika batin tersiksa. Apalah artinya bekerja jika tak mendapat apa-apa selain tekanan demi tekanan. Apalah artinya bekerja bila raga sakit dan batin pun ikut sakit. Semua itu tak akan mendapat pahala apapun. Ya, itulah keputusannya.

Malam tiba. Farisi menjelajahi setiap bangunan yang megah dengan gemerlap lampu. Bule-bule bertebaran dimana-mana. Dinginnya malam tak membuat sedikit pun mereka menggigil di balik balutan kain tipis you can see dan celana pendek.

Sekelompok bule menyuruhnya duduk di antara mereka. Mereka meminta Farisi menemaninya larut dalam obrolan.

Hahahaha….sambil menegak minuman yang ditawarkan mereka padanya. Setegak, ia coba minuman beralkohol itu….Ia merasakan sedikit pusing dan………

“Astagfirullah……!!! Apa yang aku minum semalam? Ampuni aku, Ya Rabb…Aku khilaf…”

ZZZ

“Sayang, aku sedang dalam perjalanan, mau pulang ke rumah orangtuaku. Do’akan agar aku selamat sampai di tujuan….”

Kubaca isi SMS itu berulang kali. Layaknya seorang manusia yang menadapat rezeki nomplok. SMS dari Farisi bagaikan sebuah anugrah. Aku baru mendapat kabar lagi setelah dia menghilang selama satu bulan. Tanpa kabar. Tiba-tiba sekarang….

“Alhamdulillah…Syukurlah….Do’aku selalu bersamamu…”

Senang, bahagia, haru, resah, sedih bercampur dalam satu lingkaran. Ada keinginan untuk bertanya sesuatu pada Farisi. Tapi apa pantas aku bertanya soal itu? Ya Allah, bagaimana dengan perasaan ini? Dia kembali pulang ke rumah orangtuanya berarti itu sebuah pertanda……

Apa dia benar-benar sudah membuat sebuah keputusan yang dianggapnya terbaik. Dimana posisi aku, Ya Rabb? Apakah aku ada arti baginya?

ZZZ

“Andai aku kaya, aku pasti akan melamarmu….Tapi aku miskin. Aku tak punya apa-apa….Tak ada yang bisa dibanggakan dariku. Jika tak percaya, coba tanya pada angin yang selalu menghembuskan nafasku hingga detik ini. Jadi, jangan terlalu berharap padaku…..”

Itulah sebuah jawaban dari Farisi……

Aku menangis sedalam menyelam di lautan. Tak ada cahaya yang mengantarku ke permukaan barang sejenak untuk menghirup oksigen.

Inikah keputusan yang dia ambil? Apakah dia tak peduli dengan perasaanku? Lalu apa yang harus akau lakukan dengan api cinta ini? Apakah aku harus membuangnya jauh-jauh ke tengah lautan sana? Atau kubunuh saja? Tidak…Tidak…Aku sangat menyayanginya lebih dari diriku sendiri.

Lunglai. Berhari-hari hanya tetesan air mata yang menemaniku. Apakah ini balasan untuk perasaanku padanya? Ya Rabb….apa dia ambil keputusan ini karena dia menerima perjodohan dari kedua orangtuanya? Tidak….itu tidak mungkin. Dia bilang dia menyayangiku.

Menyayangi? Apa arti sayang? Banyak makna. Jangan mudah percaya pada ucapan manis lelaki. Jangan menilai dari kata-kata yang ia keluarkan dari mulutnya. Tapi lihatlah bukti nyatanya.

Ya, tapi aku begitu mencintainya. Ya Allah, apa salah jika aku mencintai orang yang tak punya apa-apa seperti yang dia bilang padaku?

“Sinai, aku tak akan menikah sebelum aku bisa buktikan padamu, pada kedua orangtuaku kalau aku bisa menjadi orang sukses. Aku ingin membahagiakan mereka dulu. Aku mohon kamu bisa mengerti. Aku tak akan memikirkan soal cinta dulu. Aku ingin menghabiskan sisa umurku sekarang berjuang untuk meraih kesuksesan demi membahagiakan orang-orang yang aku sayangi. Sinai, maafkan aku. Aku sangat menyayangimu. Aku akan selalu punya rasa sayang untukmu. Tapi maaf, inilah keputusanku….Untuk saat ini aku tak punya cinta, aku hanya punya cita, yaitu cita yang akan aku buktikan padamu suatu hari nanti. Semoga nanti cita itu bisa berubah menjadi cinta. Berdo’alah untukku, Sinai…Untuk keluargaku, dan untuk kita berdua….”

Tetesan air mata mengalir deras. Ingin rasanya menjerit. Pintu ada di ambang ketidakpastian seperti ini sangat menyulitkan gerak langkahku. Apakah cukup sampai disinikan aku bernafas? Ya Rabb….aku ingin berjumpa dengan-Mu. Sudah lelah hati ini. Aku merindukan belaian-Mu. Ya Rabb, jagalah kekasihku. Selamat jalan kekasihku. Semoga kau menemukan cahaya di antara kegelapan. Jemput aku di tempat yang terang dan indah. Berjanjilah kau akan datang menemuiku suatu hari nanti….

Selamat jalan kekasihku…..

ZZZ

Bandung, 2 Mei 2009

JARUM KOMITMEN

| | 0 comments

Lupakan semuanya! Lupakan! Sudah kubilang lupakan! Kamu tidak mau juga mendengar perkataanku? Sudah beberapa kali aku memberitahumu. Sekarang lihat dirimu. Berkacalah di depan cermin. Siapakah dirimu? Lihat wajahmu yang sendu. Kantung matamu semakin membengkak. Kelenjar air matamu berekskresi terus-menerus. Rambutmu pun tiap hari rontok hampir melewati ambang normal. Jantungmu kian hari semakin berdenyut kencang. Bukankah kamu sering merasa ngilu, bila organ itu berdetak, memacu gerak sel-sel darah merah yang terakumulasi dalam organ itu. Sampai kapan kamu bisa menahan rasa sakit itu? Sampai kapan?

Hai Lani! Cermati dirimu baik-baik. Teliti detail-detail yang menjalankan aktivitas sel, jaringan, atau organ dalam ragamu. Aku tidak keberatan jika kamu gunakan loop atau mikroskop elektron sekalipun untuk menganalisa apa yang kamu rasakan. Coba lihatlah isi sel-sel hatimu. Temukan jawabannya. Apakah kamu benar-benar mencintainya? Atau apakah yang sedang kamu rasakan saat ini hanyalah setitik ego atau emosi yang mengendalikan seluruh aktivitas sel dalam hatimu?

Jika kamu memang tidak mencintainya, lebih baik lupakan dia. LUPAKAN!

DEG!

Suara itu membuatku terperanjat. Dalam sekejap sel-sel memoriku berhamburan kesana kemari mencari sesuatu yang bisa dijadikan pegangan. Kata hati yang sedari tadi mengoceh dan mengoceh, serta bergaung di gendang telinga telah mengembalikanku ke alam sadar. Namun hatiku masih galau. Sel-selnya yang terbagi menjadi dua kubu masih beraksi, berdebat saling mengeluarkan pendapat. Mereka mencoba mengeluarkanku dari penjara kebingungan. Mereka sedang mencari jalan keluar agar aku bisa mendapat pencerahan dalam memecahkan masalah. Apalagi kalau bukan masalah yang berhubungan dengan perasaan.

Hampir setiap hari aku mendengar sayup-sayup suara perdebatan sengit dalam organ paling sensitif ini. Tapi, baru hari ini aku mempedulikannya. Mencoba merekamnya dalam kaset di memoriku. Dulu, mereka sempat tersenyum dan sesekali menebar gelak tawa kala aku tak merespon sarannya.

Hai Lani! Kenapa kamu tidak bisa melupakan siluet yang sudah lama kamu lukis dalam memorimu? Apa kamu masih ingin menggoreskan kuas-kuas yang berlumuran cat minyak di atas kanvas sel-sel pengingat yang ada dalam dirimu? Apa kamu masih ingin membuat lingkaran hidup baru bersamanya di kavling kosong dalam kanvas pengingatmu itu?

Hai Lani! Bukalah matamu lebar-lebar! Coba renungkan apa yang kamu inginkan. Coba renungkan apa yang kamu rasakan. Apakah kamu tahu arti tiap goresan degradasi warna dalam kanvasmu? Apa kamu mengerti secara detail setiap titik yang membentuk garis-garis yang kamu buat itu? Apa kamu sadar bentuk apa yang telah kamu sketsa, hai Lani?!

Aku kembali terperanjat. Pandanganku masih menatap ke taman yang kulihat dari jendela kamarku.

Bumi seakan berhenti berputar. Pohon-pohon tidak lagi melambaikan daunnya dengan lemah gemulai kala tertiup angin. Sekalipun daun kering yang sedang menghadapi ajalnya, mereka tak mau menggugurkan daunnya. Batang, ranting, helaian daunnya mati suri. Mereka tidak layu, tapi beku. Nyamuk, kumbang, jangkrik, lebah, bahkan seekor gajah yang biasanya melolong di tengah hutan pun tak bersuara lagi. Bumi pun tidak bergerak. “Untuk apa aku hidup, beraktivitas lagi,” rintih semua makhluk di planet bumi ini termasuk aku.

Jam dinding di kamarku seakan-akan berhenti. Jarum pendek dan panjangnya mematung. Walaupun goncangan gempa tektonik menghadang, benda runcing itu tetap tak bergerak. Seolah sedang berpikir, “Apakah aku akan melanjutkan perjalanan hidup?”

Jantungku sesaat terhenti. Deg! Klep-klep atrium ventrikel dalam jantung mendadak minta cuti untuk melakukan dormansi. “Maaf nih! Aku kepengen istirahat dulu. Aku sudah lelah memikirkanmu.” Itulah bisikan dari dalam hatiku yang sedang melakukan pencarian identitas perasaannya.

Air mataku meleleh. “Apa benar mereka tak mau membantuku lagi? Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah?” ujarku lirih.

Allah Maha Mendengar. Butir-butir embun di kedua pelupuk mataku menyeringai tersenyum. “Lihat dirimu, hai Lani! Berapa liter zat cair yang telah kukeluarkan untukmu? Dengan apa kamu bisa menggantinya? Kamu tak tahu betapa sulitnya aku menahan air mata yang kamu buang beberapa hari ini. Apa kamu tega aku tak bisa memproduksinya lagi? Apa kamu tega melihatku berjuang habis-habisan melawan rasa haus dan dahaga? Heuh! Aku tak rela!”

Aku menunduk sejenak. Lalu menengadahkan kepala dan menatap ke depan. Mataku memandang jauh. Menyelami lorong waktu. EMPAT BULAN YANG LALU.

ôôô

“Kalau tidak keberatan, saya ingin ta’arufan sama kamu.”

Aku teringat akan kalimat yang pernah diucapkan Satya.

APA? TA’ARUF?

“Ya, saya sedang mencari calon istri,” katanya. Ketika mendengar itu, tubuhku langsung merinding. Apa ini kenyataan? Atau hanya mimpi? Namun, setelah sadar akhirnya aku tahu kalau adegan ini adalah nyata.

“Apa kamu bersedia ta’arufan dengan saya?” tanya Satya dengan suara ngebasnya.

Di hari itu juga, akhirnya aku harus membuat keputusan.

“Duh! Maaf ya, saya belum mau serius. Saya masih ingin berkarir dulu. Gimana kalau berteman saja?”

BERTEMAN???

“Ya, berteman,” kataku sekali lagi.

Satya baru menjawab usulku tiga hari kemudian, “Oke...Kita komitmen berteman. Tapi kalau suatu saat nanti saya berubah pikiran, kamu jangan kaget, ya?!”

“Oke....” responku tanpa bertanya dan berpikir lebih jauh.

Proses pertemanan pun berlangsung. Sampai kami pun saling mengenal satu sama lain. Tak terasa satu bulan terlewati. Dan saat itu, Satya bercerita bahwa ia tengah ber-ta’aruf dengan seorang akhwat. Aku pun membayangkan seorang wanita yang setiap harinya memakai jilbab panjang yang selalu berkibar-kibar sewaktu diterpa angin, menutupi setengah badannya. Pasti wanita itu cantik. Pasti wanita itu siap pure jadi ibu rumah tangga dan berjiwa entrepreneur. Pasti wanita itu pintar masak. Pasti wanita itu memiliki sifat kona’ah, menerima apa adanya. Dan tentunya wanita itu paham betul akan ajaran Islam. Dan juga wanita itu mungkin aktivis dakwah seperti Satya.

Eh, kenapa aku jadi memikirkan akhwat itu, ya? Tapi memang seperti itulah wanita yang diidam-idamkan oleh Satya seperti yang pernah ia bilang padaku. Kriteria calon pendamping hidup yang diharapkannya mungkin sulit sekali didapat. Dan aku tidak berkomentar apapun saat ia mengatakannya padaku sebulan yang lalu.

Selama Satya menjalani ta’aruf dengan akhwat itu, ia jadi mengurangi frekuensi mengirim SMS-nya padaku. Yang asalnya tiap hari dan dalam satu hari bisa beberapa kali. Pagi. Siang. Sore. Malam. Berubah menjadi dua hari sekali. Kebanyakan SMS-nya berisi curhatan dia. Dan aku menanggapi hanya selayaknya sebagai teman.

Di tengah pertemanan itu, saya berpikir. “Kok aku mau yah jadi tempat curhatnya dia? Kenapa dia curhat padaku, tidak pada temannya yang sesama jenis saja?” Berkali-kali aku renungkan kalimat itu. “Sepertinya aku harus menjaga jarak dengan Satya. Aku takut merusak proses ta’aruf-nya.”

Akan tetapi tampaknya niatku tidak berhasil. Saat aku ingin menjauh, Satya malah semakin mendekatiku. Dan ia bilang, “Sudah empat kali saya gagal ta’aruf dengan akhwat. Saya sakit hati.”

Beberapa hari ia mengeluh padaku. Dan aku berusaha untuk tetap memberi semangat padanya agar jangan sampai putus asa. “Sabar saja. Mungkin belum waktunya,” kataku.

Saat aku mengetahui ia sering gagal ta’arufan dan sudah putus dengan akhwat yang terakhir dita’arufi-nya, hati ini seringkali bertanya, “Sebenarnya apa yang menyebabkan ia gagal?” Dan akhirnya aku pun tahu jawabannya dari Satya langsung. “Mereka ingin berkarir setelah menikah nanti.”

Lantas apa masalahnya kalau mereka ingin berkarir setelah berumah tangga nanti? Oh, ya aku lupa. Satya kan ingin punya calon pendamping hidup yang ibu rumah tangga, mengurus anak dan pekerjaan di rumah.

“Lan, menurut kamu cara berpikirku kolot ya?” suatu hari Satya bertanya begitu padaku.

“Iya. Di jaman sekarang sulit sekali mencari wanita yang seperti itu. Akhwat sekalipun. Pasalnya, akhwat-akhwat sekarang kan banyak yang beraktivitas di luar rumah. Wanita yang hanya jadi ibu rumah tangga kan belum tentu lebih baik daripada seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai wanita karir dalam hal mendidik anak serta mengurus rumah tangga. Jadi jangan terlalu ngotot seperti itu. Nanti jodohnya malah tidak kunjung datang, lagi.”

Sejak itu, sepertinya Satya merenungkan ucapanku.

Hari berganti hari. Satya tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan yang membuat hatiku bertanya, “Lan, saya boleh tahu tidak. Kenapa kamu pengen banget punya suami orang Jawa? Padahal laki-laki Sunda kan cakep-cakep.”

Apa maksudnya? Jangan-jangan Satya berubah pikiran? Dia kan berdarah Jogja juga. Dengan rinci, aku kemukakan alasan-alasanku. Dan Satya pun mengerti.

Hari berikutnya, ia bertanya lagi. Bagiku pertanyaan-pertanyaannya sangatlah aneh. Setiap hari, ia menanyakan aktivitasku. Padahal ia tahu sendiri kalau kegiatanku selama menunggu panggilan kerja yang entah kapan datangnya adalah aktif di sebuah LSM lingkungan dan waktu senggangku aku gunakan untuk membuat karya tulis. Kenapa ia masih bertanya lagi? Tak hanya itu. Satya juga banyak bercerita tentang dirinya. Aktivitas dakwahnya. Dan masih banyak lagi yang kuketahui tentang dirinya.

Aku bertanya. Untuk apa ia memberitahuku soal perjalanan hidupnya? Apakah ini sebuah bentuk promosi? Apa ia benar-benar sudah berubah pikiran? Ah, entahlah. Aku sendiri jadi tidak mengerti dan hanya membuat kepalaku pusing jika terus memikirkan yang tak pasti.

Ya Allah....Tapi kalau sekarang aku masih sering SMS-an dengan Satya, aku takut suatu saat nanti aku akan menaruh perasaan padanya. Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak boleh menyukainya selain suka pada seorang teman. Why not? Itu karena aku tidak boleh melanggar suatu ikrar yang pernah kami buat. Aku dan Satya sudah membuat sebuah KOMITMEN. Kami hanya BERTEMAN. Tidak lebih. Dan aku tak boleh merusak persahabatan dengannya.

Ya Allah.....Bagaimana kalau hal ini sampai terjadi?

Aku takut sekali, Ya Allah.......

ôôô

Aku tidak boleh sering-sering SMS-an dengan Satya. Itu satu-satunya jalan agar aku tidak terjerumus ke dalam lubang yang penuh dengan cinta dan harapan karena di dalamnya ada juga sekelompok wujud jahat yang menjelma menjadi sedih, kecewa, dan sakit hati.

“Ya sudah kalau memang Lani maunya seperti itu,” kata Satya ketika aku mengajukan usul untuk mengurangi kuantitas SMS-an.

Namun hal itu hanyalah persetujuan tanpa pelaksanaan. SMS-an kami tetap saja berlangsung. Tiap hari ada saja topik pembicaraan. Sampai akhirnya sahabat dekatku yang pernah aku kenalkan pada Satya—Runi—melayangkan sebuah berita besar padaku. Runi membuat sebuah pengakuan.

“Kemarin aku SMS-an sama Satya. Aku ingin tahu perasaan dia sama kamu.”

“Apa kamu bilang?”

“Dengarkan aku dulu, Lan. Dari dulu Satya sebenarnya Satya sudah ingin melamarmu. Tapi......” Runi tidak meneruskan kalimatnya.

Aku hampir saja melempar gagang telepon. Benarkah? Apakah yang dikatakan Runi benar? Tapi selama ini Runi selalu berkata jujur padaku. Benarkah? Aku bertanya untuk yang kedua kalinya. Aku benar-benar tidak menyangka dan tidak pernah berpikiran sejauh itu, Ya Allah.

“Tapi apa, Run?” tanyaku penasaran.

“Satya minder. Satya malu sama kamu, Lan.”

Aku mulai mengerti kemana arah pembicaraan Runi.

MALU? MINDER?

“Kenapa Satya mesti minder dan malu?” aku bertanya pada Runi.

“Kamu lupa ya siapa dirimu ya, Lan? Pendidikanku kan jauh lebih tinggi dari Satya. Dia jebolan STM sementara kamu S1. Aku bilang pada Satya, so what gitu lho sama jenjang pendidikan. Tapi ia tidak meresponnya.”

“Jadi, karena itu ya?”

“Yup! Betul! Itu salah satu alasannya.”

“Tapi kalau dia benar-benar mau melamarmu, bagaimana? Apa kamu yakin tidak masalah dengan pendidikan Satya? Apa kamu mau menerimanya? Apa kamu siap menerima dia dengan kondisi yang seperti itu?” tanya Runi dengan nada serius.

“Maksudmu, Run?”

Runi tidak menjawab. Aku mencari jawabannya sendiri. Teringat cerita Satya yang sering pergi ke berbagai daerah bahkan sampai ke luar negeri hanya untuk belajar dakwah. Tujuan hidupnya adalah memang untuk berdakwah.

“Apa kamu siap dia tinggalkan sewaktu-waktu nanti, Lan?” Runi bersuara lagi.

Aku diam. Lalu......

“Alasan yang lain apa, Run?” aku mengalihkan pembicaraan.

“KOMITMEN! Yah, komitmen pertemanan kalian tampaknya jadi penghalang.”

Penjelasan Runi mengingatkanku pada ucapan Satya.

Saya berprinsip: Kalau A ya A. Kalau B ya B. Jadi sebisa mungkin saya pegang prinsip itu.

Astagfirullah!

Apa Satya tak bisa mengubah komitmen yang pernah dia buat denganku, Run?”

“Ya...”

Desiran angin langsung berhembus dari jendela kamarku. Tiupannya menyelusup ke dalam pori-pori kulitku.

Hari itu juga aku langsung mencari kebenaran dari Satya. Tapi keingintahuanku tampaknya tidak dianggap. Harapanku sirna sebelum kebenaran terungkap. Respon Satya malah membuatku bingung. Sebelum aku mengetahui perasaannya padaku dan sebelum Satya mengutarakan perasaan yang sesungguhnya padaku, Satya keburu bilang, “Sebaiknya SMS-an kita dibatasi. Saya takut prinsip saya hanya ujian buat saya. Saya takut terjadi sesuatu di tengah jalan. Misalnya berubah pikiran yang ujung-ujungnya bikin sakit hati.”

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Satya? Sakit hati? Apa pernah selama ini aku menyakiti hatinya? Ya Allah, kenapa Satya berkata seperti itu? Apa ia masih trauma dengan ta’arufan-nya yang dulu? Apa ia takut ditolak atau takut gagal lagi? Aku sungguh tidak mengerti. Tidak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa.

Perang dingin di antara kami pun meledak bagai bom waktu. Aku mendadak jadi sensitif sejak Satya sering mengucapkan ribuan kata maaf. Sejak mendapat berita dari Runi, aku merasa Satya sensitif. Ia selalu merasa bersalah. Setiap kata yang diucapkan takut sekali menyinggung perasaanku. Ia bilang, “Saya tidak mau menyakiti perasaan siapapun, termasuk Lani.”

Ya Allah....Pertanda apakah itu? Apakah orang yang sedang sensitif hatinya—sepertiku—selalu menandakan bahwa orang itu tengah jatuh cinta? Apakah begitu dengan Satya?

“Kalau Lani kecewa bahkan sakit hati, mohon keikhlasannya untuk dimaafkan.”

Itulah kalimat terakhir yang dikirimkan Satya padaku lewat SMS.

Tentu saja aku kecewa. Karena kamu berusaha menutup mata hatimu jadi kamu tak pernah mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Tanpa disadari, aku sudah punya feeling sama kamu. Aku tak pernah melihat seseorang dari pendidikannya. Asalkan orang itu bertanggung jawab dan bisa membimbingku untuk tetap berada di jalan yang benar kelak, aku insya Allah bersedia menemaninya seumur hidup. Dulu, aku menolakmu itu karena aku takut. Dulu aku belum siap untuk berumah tangga. Tapi setelah mengenalmu, aku berubah pikiran. Dan aku niatkan jika suatu saat nanti ada yang ingin ber-ta’aruf denganku, aku harus mencobanya. Siapa tahu memang berjodoh. Perlu kamu ketahui. Aku bukan tipe orang yang melihat seseorang dari sisi yang dzahir seperti yang pernah kamu ungkapkan padaku kalau orang-orang di jaman sekarang lebih melihat pada penampilan, harta, pangkat atau kedudukan. Aku bukanlah orang yang seperti itu. Dan sekarang ketika aku tahu kamu merasa minder, aku jadi bingung. Bukankah kamu sendiri sangat tahu bahwa yang membedakan manusia di mata Allah hanyalah iman dan ketakwaannya. Dan mengenai komitmen. Menurutku, sekuat apapun memegang prinsip, manusia bisa saja berubah pikiran kalau Allah menghendakinya. Jika kamu menginginkan aku mengubah komitmen itu, insya Allah aku setuju kecuali jika aku memang tak punya perasaan apa-apa padamu. Tapi nyatanya, kamu malah mengungkapkan usul yang pernah aku lemparkan padamu. Kamu malah berniat mau menjauhiku. Kamu malah mau menghindar. Kamu sudah terbelenggu oleh prinsip dan ditikam oleh JARUM KOMITMEN. Apa kamu benar-benar tak bisa mengubah komitmen itu, Satya? Sekalipun hatimu berbicara kalau kamu pernah menyimpan perasaan padaku, meskipun setitik?

Air mataku berlinang saat menulis isi pesan yang hendak kusampaikan pada Satya. Pesan itu hanya aku simpan dalam outbox di handphone-ku. Tidak pernah aku kirimkan.

“Maafkan aku, Satya. Aku bingung bagaimana harus menyelesaikan masalah ini. Aku juga tidak tahu apa yang kamu pikirkan. Katamu masalah ini sudah jelas, tidak perlu diungkit atau dibicarakan lagi. Tapi aku benar-benar tidak mengerti apa maumu.”

Jadi aku putuskan untuk diam. Aku ikuti kemauanmu saja. Aku ikuti saja kemana kamu mengalir. Aku terlalu lelah memikirkannya. Harus seperti inikah cintaku bermula dan berakhir?

ôôô

Masa-masa indah! Lorong yang boleh dibilang sebuah terowongan panjang yang dulu terang-benderang itu kini bagiku serasa gelap. Walaupun cahaya berpendar, memancarkan sinar dari sorot lampu-lampu yang bertengger di sepanjang langit-langit lorong itu, aku tetap saja merasa kurang terang.

“Tolong aku! Aku ingin melihat lagi hari-hariku yang kemarin…” pintaku sambil memelas.

“Apa gunanya kamu lihat kenangan itu?” tiba-tiba ada suara nyaring di tengah jeritanku. “Kalau aku tidak bisa melihat masa itu dengan beribu-ribu lampu sekalipun, siapa yang akan menerangiku?” tanyaku.

“TUHAN-mu!”

Dup! Lup! Dup! Lup! Organ pemompa darah berirama. Sistol! Diastol!

“Tuhan?” tanyaku lagi. “Ya, Tuhan-mu!” tegas suara itu meyakinkan.

“Ya Allah, maafkan hamba-Mu…” Begitu entengnya aku mengatakan itu. Dulu, saat senang aku lupa pada-Nya. Kala sedih, ditimpa kesulitan, aku baru mengingat nama-Nya. “Heuh! Manusia…manusia…” kudengar bisikan dengan aksen sinis.

Selama setengah jam, aku bersimpuh di atas hamparan sajadah yang bergambar Ka’bah. Sekarang aku hanya bisa mengadu dan memohon ampunan-Nya.

Sejam kemudian, kupalingkan muka. Aku tak boleh terus menoleh ke belakang. Pandanganku harus lurus ke depan. Lalu aku tundukkan kepala. Kulihat sebuah bayangan yang tertangkap retina di bola mata. Sebuah sosok! Sosok yang sedari tadi ingin kulihat. Kini kembali hadir.

Memang benar yang dikatakan semua organ ragaku. Jiwa dan ragaku berbeda aliran. Mereka belum bisa menyamakan tujuan hidupku. Sosok ramah, senyum yang tersungging di kedua bibirnya membuat hatiku luluh. Siapa yang tidak? Tiap bertemu, sosok itu selalu menyapaku dengan ramah. “Hai, Lani! Apa kabar?”

Sungguh tak disangka, sosok berwajah kalem—bayangan laki-laki itu selalu menghantuiku. Kemanapun aku pergi, selalu kuingat kata-kata yang diucapkan lelaki itu. “Bersikaplah lebih dewasa, berpikir dewasa!”

Tiap kali berdo’a pada-Nya, “Ingatlah Tuhan-Mu..”. Kala musibah atau cobaan menimpaku, “Jangan pernah mengeluh…Don’t give up! Ganbatte kudasai!

Kalimat-kalimat itu selalu dikatakan Satya padaku.

Hai Lani! Apa kamu masih berharap padanya setelah kamu tahu dia malah ingin menghindar darimu? Jangan biarkan magnet-magnet berlainan kutub yang ada dalam hatimu terus-menerus menyiksamu. Bila dibiarkan terlalu lama, aku tidak yakin engkau kuat melawan gaya tarik benda itu. Alangkah baiknya kamu balikkan salah satu kutubnya seratus delapan puluh derajat agar terjadi tolak-menolak di antara mereka. Dengan begitu, hidupmu akan cerah kembali. Songsong hari esok dengan penuh asa baru.

Roda kehidupan terus berputar. Angin tak pernah berhenti meniupkan hembusannya. Sekecil partikel atom pun tetap berhembus. Sudahlah! Lupakan masalah ini untuk sementara. Lupakan dia! Atau kalau kamu tidak bisa, hilangkan perasaan itu dari lubuk hatimu yang paling dalam sekalipun. Insan lain yang lebih baik darinya masih banyak.

Lupakan? Aku tak berdaya. Aku tak punya kekuatan untuk itu. Aku bingung. Aku takut. Jika kulepaskan tangannya, apa aku bisa melupakan bahwa aku pernah punya perasaan padanya? Tolong beri aku jawabannya!

“Kamu pasti bisa! Bukankah selama ini kamu berprinsip: Jika kamu merasa bisa, pasti kamu bisa melakukannya. Apapun itu. Dan aku yakin kamu bisa melewati cobaan ini.” Bisikan hati kecilku sedikit memberikan ketenangan.

Hai Lani! Sekarang angkat kepalamu. Tengadahkan! Tatap masa depan. Tepat sejajar dengan pusat bola matamu. Lihatlah! Apa sosok itu hadir disana? Apakah Satya akan mengubah komitmennya? Kamu tidak tahu kan?! Hanya Tuhan-mu lah yang tahu. Tunggulah sang waktu. Tunggulah sampai jarum komitmen berputar menentukan arahnya. Jika dia memang jodohmu, pasti hati Satya mau mengakui dan komitmen pertemanan itu akan ia ubah dengan komitmen yang mengikat tali kasih seumur hidup.

Yakinlah! Semua kejadian yang telah kamu alami mungkin adalah jalan yang terbaik. Pasti kamu bisa mengambil hikmah besar dari balik semua peristiwa ini. Jadi berbahagialah. “Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal yang terbaik. Tapi mereka berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang pernah hadir dalam hidupnya.” Pepatah itu membuatku optimis menemukan sebuah harapan yang lebih baik. Semoga.

ôôô

Bandung, 9 September 2006

LYWANA

| | 0 comments

Tak ada manusia yang sempurna. Sempurna....Sempurna...Seperti yang dilantunkan oleh Gita gutawa. Jadi apakah seseorang berhak menuntut kesempuranaan dari orang lain? Ada si kaya. Ada si miskin. Ada penjahat. Ada orang baik. Jika saja ada individu terlahir sempurna secara lahiriah dan batiniah, pasti ia tak akan minta bantuan orang lain. Toh, ia sudah memiliki keinginannya dengan usaha dan jerih payah sendiri. ”I don’t need your help!” mungkin ia akan bilang begitu setiap kali ada orang yang menawarkan bantuan padanya.

Sempurna...Sempurna.....Sempurna....

Delapan huruf dalam satu rangkaian kata itu terus-menerus bergolak dalam ucapan Lywana. Sudah berkali-kali Lywana menjelaskan arti kata itu pada kedua orangtuanya. Kembali lagi pada permasalahan klasik yang selalu menjadi prinsip orang tua dalam menentukan pilhan calon menantunya.

Lywana telah bertemu dengan seoran pria. Rentang usianya lima ahun, leih tua. Boleh dibilang pas, jika mereka menjadi pasangan. Awal cerita, mereka sama-sama duduk di satu ruangan. Berkenalan dalam suatu kegiatan, forum diskusi. Besoknya, tugas laporan di bawa ke rumah. Oh, maaf mereka sama-sama tidak tinggal di rumah melainkan sedang kost. So, tugas kelompok lima orang pun dikerjakan di kost-kostan.

Sebua kepulan asap memenuhi ruangan 2x3 m2 .

”Sepertinya dia orangnya unik!” kesan pertama Lywana. Semua individu diciptakan dalam bentuk unik. Tapi yang ini lain. Apa yang membedakan dari individu lain?

Lywana mencari perbedaan-perbedaan yang ada dalam diri laki-laki itu. Cipto, namanya. Menarikkah penampilan Cipto sampai dapat membangkitkan keingintahuan Lywana? Maybe! Rambut belah tengah. Wajah tirus. Plus kacamata minus tampak keren. Tubuh berotot Tinggi badan 170cm. Hidung lancip. Jalan tegap. Siapa yang tidak bilang menarik coba sampai ada beberapa wanita ada yang rela jadi kedua?

Semakin hari kadar perasaan Lywana terhadap Cipto laksana mendaki gunung dengan kemiringan tiga puluh derajat. Tak ada yang bisa merayu Cipto untuk diajak sekadar nongkrong di Kafe atau mall-mall. Lumayan dibuat panas. Terus penasaran. Kenapa dia selalu memisahkan diri, ya?

“Na, mau nggak jadi pacarku?”

”Na, udah..sama aku aja ya!”

”Na, aku suka banget lho sama kamu!” sambil berusaha memegang tangan Lywana.

Di saat tema-teman sekelas Lywana menawarkan diri dengan berbagai cara dan kalimat, Lywana tak minat sama sekali. Rayuan gombal, tangkis saja! Karena Lywana menginginkan Cipto! Lywana tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Tak boleh ada satu lelaki pun yang boleh merendahkan harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita. Selalu bersikap hati-hati bila ada laki-laki yang berusaha menyentuh kulitnya barang secuil pun. No way! Tetap saja haram bagi umat muslim bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Memang untuk memperjuangkan prinsipnya tak semudah mengedipkan kelopak mata yang tiap detik pun tanpa disuruh mengatup sendiri.

Lywana mencari tahu tentang Cipto.

“Cipto masih single lho!”

Entah berapa banyak wanita yang mengincarnya. Begitu melangkah ke luar rumah saja, tetangganya sudah pasang muka dan berkata, “Mas, sudah punya pacar belum? Kalau belum, aku mau daftar dong!” Sama seperti Lywana, mereka pun penasaran pada laki-laki yang pintar bermain musik itu. Meski banyak wanita penggoda imannya, Cipto hanya respon dengan senyum tenang. Para wanita itu malah semakin menjadi-jadi. Kecentilan. Senyum Cipto bikin kleper-kleper. Bingung juga harus ditanggapi seperti apa, keluhnya.

Misi Lywana dalam menjalankan tugas sebagai detektif, yaitu meneliti pribadi Cipto diam-diam tak ada yang tahu kalau Lywana mulai memiliki perasaan yang tak dapat ditafsirkan oleh logikanya. Suatu hari, tak ada angin tak ada panas tak ada hujan....lho jadi? Yah, pokoknya Cipto langsung menyambar petir agar berhenti dulu. Ia titip kalimat ”Aku suka padamu. Aku ingin menjalin hubungan serius denganmu.” untuk disampaikan pada Lywana.

Sungguhkah? Benar sekali. Laki-laki yang pernah dicap sebagai playboy ganteng oleh teman-temannya itu membuat sebuah pengakuan. ”Aku sedang mencari calon istri,” katanya. Apakah Lywana bersedia? Pertimbangan matang setelah mengerahkan seluruh sel-sel sarafnya untuk berpikir, akhirnya tak ada halangan lagi bagi Lywana untuk menolaknya. Mereka jadi pasangan kekasih. Maksudnya mereka pacaran, begitu?

Ya, kurang lebih seperti itu. Mereka beberapa kali tampak jalan berdampingan. Berdua? Ya, berdua! Jadi untuk apa seorang wanita menutup kepalanya dengan kain menjulur sampai di atas perut kalau perbuatan seperti itu masih dilakukan? Di mana pemahaman mereka tentang hijab? Apakah batasan antara laki-laki dan perempuan sudah dianggap klasik? Apakah Lywana masih pantas menyandang gelar ”PUTRI EKSKLUSIF” yang diberikan oleh teman-temannya sejak duduk di bangku SMU? Apakah gelar dari orang-orang yang memandangnya itu harus dicabut begitu saja?

Tidak! Tidak! Tentu saja hal itu tak boleh terjadi. Tapi.....Sejuta penyesalan Lywana tak berujung.

”Ya Allah, ampunilah dosaku! Aku bertaubat pada-Mu!”

Lywana pun menjauhi Cipto. Di saat yang tepat. Mereka harus berpisah dikarenakan kegiatan pelatihan sudah selesai. Semua peserta kembali ke kota masing-masing dengan membawa bekal ilmu baru. Tapi, bekal Lywana bertambah berat. Jakarta-Bandung. Jika dilihat di peta memang jauh. Tapi setelah ada tol Cipularang, sekarang dirasa dekat. Sepanjang jalan yang memisahkan kota itu ada aliran elektron yang mengikat hati dua insan. Tegangannya semakin kuat.

Apakah yang terjadi? Cipto tak mau putus hubungan denga Lywana. Why? Because he love her!

Please, wait me to apply to!

Memangnya lamaran kerja, apa?

How long?

Satu bulan? Dua bulan? Tiga bulan?

Tiga bulan sudah lewat. Lywana tak tahan dengan hati tergantung. Dimanakah Cipto? Mana janjinya? Janji palsu! Sama saja dengan laki-laki lain. Nothing special! Selama tiga bulan sama sekali putus komunikasi. Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Selalu saja mesin operator yang menjawab saat Lywana berusaha menyambungkan tali silaturahmi yang putus.

”Untuk apa aku setia padanya kalau sudah tak ada kabar darinya!”

Berulang kali Lywana menanam pernyataan itu dalam benaknya. Aktivitas berhasil menghapus ingatan tentang hari-hari bersama Cipto. Perjuangan hawa nafsu selalu menguntit Lywana. Apakah Lywana berhasil mengatasinya? Baru separuh!

Berhasilkah Lywana menghapus masa lalunya yang telah menjerumuskan ke dalam lembah dosa? Belum! Cipto hadir kembali, mengusik kehidupannya.

”Aku mau ke Bandung!” katanya.

Surprise apakah ini? Apakah ini salah satu keunikan Cipto? Ada rencana apa di balik niatnya itu? Cipto bilang ingin mnenyampaikan dan membuktikan keseriusannya. Lalu kemanakah ia selama ini? Dan apa yang bisa ia bawa ke hadapan orangtua Lywana? Nothing! He just bring hisself!

“Maaf, Na! Aku belum bisa bawa yang lain!”

Lywana sempat bimbang. Seberani itukah Cipto datang ke rumah orangtuanya tanpa membawa pelindung apapun. Pekerjaan? Cipto belum juga mendapatkan tempat untuk mengais rezeki. Lalu apa pendapat orangtua Lywana?

“Bagaimana bisa kamu menghidupi anak kami jika tak punya pekerjaan?”

Nada ayah Lywana melambung.

“Tentu saja saya akan mencari pekerjaan, Pak!”

Cipto membela diri. Namun, apa imbalannya?

“Jangan dekati anak kami sebelum mendapat pekerjaan!”

Subhanallah..............

Setega itukah orangtua Lywana? Dimana rasa belas kasihannya? Lywana lunglai. Badannya semakin kurus. Beban pikiran menyelimutinya. Ia sangat mencintai Cipto! Entah kapan bermulanya perasaan itu tumbuh.

Lywana bukan gadis penurut lagi. Tapi pembangkang. Komunikasi dengan Cipto tetap dilakukan kendati orangtuanya melarang keras. Diam-diam. Sampai suatu hari ia kepergok orangtuanya. Saat tengah bicara dengan Cipto di telepon, seakin terpuruklah mentalnya. Ayah Lywana menyambar telepon genggamnya.

”Jangan pernah jadi pembangkang!” kata Pak Sarto.

Lywana pun menangis sejadi-jadinya.

æææ

Sebuah kabar gembira datang dan membangkitkan harapan. Cipto dapat pekerjaan.

Alhamdulillah....

Lywana bisa bernafas lega. Pernah direndahkan harga dirinya sekali, Cipto belum mau menyerah. Ia datang lagi ke rumah Lywana. Tak ada balas dendam. Darahnya mendidih. Bukan oleh amarah. Tapi jiwa dan perjuangan untuk mendapatkan cinta Lywana dan kedua orangtua gadis itu.

Pukul setengah tujuh pagi, Cipto berangkat dari rumahnya menuju jalan raya. Bis ke arah Pulo Gadung berhasil membawanya ke terminal meskipun harus berdesakan berdiri. Jam delapan pagi ia sudah berada di bis Primajasa. Perjalanan kurang menyenangkan. Weekend dan liburan panjang mengakibatkan kemacetan di jalan raya. Arus menuju Bandung harus merayap. Jalan tol tidak ada pengaruhnya sama sekali di hari seperti ini. Duduk berjam-jam di dalam bis dengan kegelisahan di hati semakin mensupport dia untuk berpikir. Segala masalah bermunculan dalam sel-sel sarafnya.

Tiba di Terminal Leuwipanjang pukul 15.30 WIB. Dimanakah rumah Lywana? Ia lupa-lupa ingat. Naik apa dan turun di mana? Tak ada pilihan lain selain menghubungi Lywana. Dengan sabar, Lywana memberi petunjuk.

”Na, apa aku pulang saja,” kata Cipto ketika Lywana menolak untuk menjemputnya di terminal. Sambungan terputus. Lywana tahu, itu hanya ucapan Cipto di mulut saja. Dan memang benar.

Laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu rumahnya tepat pukul 17.00 WIB. Raut wajah lelah tampak.

”Kasihan sekali Cipto, jam segini baru sampai!” bisik Lywana dalam hati.

Ayah dan ibu Lywana sudah duduk di ruang keluarga. Begitu juga dengan keempat kakak kandung dan kakak ipar Lywana. Berkumpul di sana. Cipto dijamu dengan baik. Selesai meneguk air minumnya dalam cangkir, Cipto diminta pindah ke ruang keluarga.

Waktunya disidang! Trereng....Semua mata memandang pada sesosok insan yang berjiwa pemberani itu.

Ganteng dan menarik! Ya, semua orang di rumah itu mengakui penampilan fisik Cipto. Fisik oke, lolos. Lalu apalagi kriteria orangtua Lywana selanjutnya. Harta? Cipto memang belum memiliki apa-apa dari hasil keringatnya sendiri. Wajar saja, pekerjaan baru ada di tangan. Lalu, bagaimana dengan keturunan? Apakah kacamata keluarga Lywana selalu melihat ke atas, martabat dan kedudukan yang tinggi? Dari kalangan manakah Cipto dilahirkan? Apakah sesuai dengan harapan orangtua Lywana yang sudah memiliki empat orang menantu dan empat pasang besan yang berasal dari keluarga berada dan punya jabatan yang diakui di masyarakat.

”Saya lahir dari keluarga biasa, Pak! Ayah saya asli Jogja dan ibi saya keturunan Sunda.”

Pak Sarto berkerut kening. Sementara itu, Cipto bimbang harus menjelaskan apa. Bagaimana penilaian orangtua Lywana ketika mengetahui kalau ayahku sudah tidak bekerja lagi karena PHK dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan. Kehidupan keluarga hanya mengandalkan toko pakaian kecil-kecilan di samping rumahnya. Ditambah dengan isu kalau kedua orangtua Cipto sudah tidak rukun dan ingin bercerai. Oh, sungguh berantakan keluargaku, keluh Cipto.

Laki-laki itu menunduk pasrah. Beberapa pasang mata memandangnya. Kini giliran kakak laki-laki Lywana yang paling tua, seorang guru agama berprestasi dan dikenal sebagai ustadz juga.

”Apa pengertian akidah?”

”Surat apa saja yang kamu hafal dari Al-Qur’an?”

”Apa tugas kepala rumah tangga? Hadits mana yang akan kamu ikuti?”

.........................................................

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan seputar agama. Sebisa mungkin dengan mengerahkan segenap pikirannya, Cipto berusaha menjawabnya sesuai dengan pemahaman agama yang ia dapat.

Azis, kakak Lywana senyum-senyum dan sesekali menganggukkan kepala selagi mendengarkan penjelasan Cipto. Ketidakpuasan tampak dari wajah Azis.

Interogasi Azis selesai. Dilanjutkan dengan kakak-kakak yang lain. Lywana membatin. Tak pernah menyangka Cipto akan dibantai habis-habisan seperti ini.

Hati Cipto menciut. Namun, kesabaran melindungi emosinya. Jangan sampai menyulut amarah. Sabar....Sabar....Hatinya selalu bertasbih.

Tak terasa jam dinding sudah berdentang. Pukul delapan malam. Acara interogasi yang tadi diselingi dengan shalat maghrib akhirnya usai. Ketegangan Cipto mulai memudar. Asa masih ada selama belum ada keputusan dan penilaian dari dewan juri.

Detik-detik menegangkan menyeruak ke dalam tubuh Lywana maupun Cipto selepas shalat Isya. Kedua mata Lywana bengkak-bengkak. Tadi ia tidak kuat menahan tangis. Rasanya ingin membela Cipto. Tapi, ia tak berdaya untuk melawan keluarganya. Rasanya ia ingin sekali memutarbalikkan kata-kata mereka. Tapi, prinsipnya untuk menghargai orang-orang yang lebih tua apalagi keluarga harus tetap ditegakkan. Apalagi posisi Lywana sebagai anak bungsu yang segala sesuatu harus manut.

Cipto pun pulang dengan tangan kosong. Keluarga Lywana akan mengabari hasil sidang tadi secepatnya.

æææ

POKOKNYA KELUARGA TIDAK SETUJU. KEPUTUSAN SUDAH TIDAK BISA DIUBAH. CIPTO TIDAK LAYAK MENJADI BAGIAN DARI KELUARGA KITA. TITIK.

Lywana berurai air mata.

”Cipto nggak ada apa-apanya.Pemahaman agama saja sangat kurang. Bagaimana bisa menjadi imam keluarga kalau nggak punya ilmu agama yang baik. Laki-laki itu harus jadi imam. Pemahaman agama kamu sangat baik. Bagaimana mungkin kamu bersanding dengan laki-laki yang nggak lebih baik dari kamu. Ingat, laki-laki itu pemimpin. Wanita nggak boleh menggantikan posisi itu.”

Kata-kata mereka semakin membuat Lywana terisak-isak.

Ya Allah....salahkah bila aku ingin mengajak Cipto belajar agama sama-sama? Apakah aku salah bila menikah dengan orang yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki dirinya menjadi lebih baik?Bukankah itu ladang amal ibadah untukku?

Kamu adalah anak bungsu. Pantas mendapat yang lebih dari kakak-kakak kamu. Baik itu rezeki maupun jodoh. Kami ingin acara pernikahan yang terakhir dalam keluarga kita lebih baik dari sebelumnya. Kami ingin melihat kamu behagia. Kami harap jodoh kamu juga lebih agamis dan lebih baik rezekinya dari kami. Bukan seorang duda dengan satu anak seperti Cipto. Kamu layak mendapatkan yang lebih baik. Kami semua sayang sama kamu, Lywana.”

Ya Allah...siapa yang harus aku pilih? Keluarga atau Cipto? Jika aku memilih Cipto, berarti aku telah melenyapkan kasih sayang dari banyak orang, semua keluargaku pasti akan memusuhiku dan mencap aku sebagai pembangkang. Ya, benar-benar pembangkang! Tapi.............

Jika aku memilih keluargaku, berarti separuh hidupku berada di dunia lain. Setengah hidupku berada di ambang kematian.

Ya Allah....Aku lelah. Aku ingin istirahat.....Jemputlah aku..................

æææ